Tuesday, January 24, 2017

Sejarah Perang Dayak vs Madura (Kerusuhan Sampit)

sejarah perang sampit :

Mendengar kalimat ''kerusuhan sampit'' tentu sudah tidak asing lagi ditelinga kalian. Apalagi jika kalian sudah dewasa ketika konflik sampit itu terjadi. Ketika kerusuhan sampit saya masih duduk dibangku kelas 2 SD, jadi saat itu saya tidak tau secara detail tentang apa yang sebenarnya terjadi. Yang saya tau dari pembicaraan orang2 tua adalah perang antara Dayak dan Madura. Selain masih kecil, saya juga tidak bertempat tinggal di sampit, kampung saya berjarak 4 jam perjalanan air dari sampit. Sehingga kampung saya tidak termasuk daerah konflik tersebut, walaupun ada pembakaran beberapa rumah orang madura dikampung saya.

Seiring bergulirnya waktu berita kerusuhan sampit tidak serta merta hilang dari ingatan orang. Hal ini terbukti ketika saya kuliah di Jogja, walaupun sudah 2014, yg artinya kejadian itu sudah 13 tahun yang lalu, namun setiap kali saya berkenalan dengan orang baru dan saya menyebutkan asal saya ''Sampit'', mereka selalu bilang ''...Oh yang kerusuhan itu ya'', ''... Oh yang perang itu ya''. Ini membuktikan bahwa tragedi sampit masih diingat banyak orang bahkan yang diluar kalimantan. Selain itu, hingga saat ini jika saya menelusuri Google dengan kata kunci ''Sampit'', maka informasi yang muncul kebanyak tentang konflik sampit, tragedi sampit, perang sampit, dll.

Kenapa sih tragedi ini susah tergerus oleh waktu? jawabannya tidak lain adalah karena tragedi ini merupakan tragedi terparah sepanjang pertikaian antar etnis di Indonesia. Tidak hanya banyak menelan korban jiwa, namun kesadisan, kengerian kerusuhan ini juga menjadi faktor susahnya untuk dilupakan. Sekali lagi, informasi yang saya share ini tidak bertujuan untuk menyinggung/mendiskriminasikan pihak manapun. Karena saya cinta dayak dan saya respect terhadap madura. Asal kita dapat hidup berdampingan yang saling menghormati, saya yakin kejadian ini tidak akan terulang lagi.

Asal Usul Penyebab Terjadinya
Asal Usul Penyebab Terjadinya Tragedi Sampit hingga saat ini masih simpang siur. Saya bertanya dari berbagai narasumber dan searching di Google, hasilnya berbeda-beda pendapat. Ada yang mengatakan tragedi ini berawal dari kasus pencurian ayam, kasus perkelahian remaja antar etnis, kasus kesenjangan sosial, dll. Namun dari berbagai pendapat itu, saya bisa menyimpulkan bahwa tragedi kerusuhan sampit ini sebenarnya berawal dari masalah sepele/kecil yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan atau jalur hukum yang ada tanpa harus mengorbankan ratusan bahkan ribuan nyawa. Akan tetapi masalah2 sepele itu terjadi berulang-ulang dan tanpa penyelesaian yang maksimal, sehingga menimbulkan suasana yang rentan akan konflik yang lebih besar. Dari beberapa sumber ada beberapa kasus yang telah terjadi berlarut-larut hingga memuncak pada kerusuhan sampit.

    1972, Palangka Raya, seorang gadis Dayak digodai dan diperkosa, terhadap kejadian itu diadakan penyelesaian dengan mengadakan perdamaian menurut hukum adat.
    1982, terjadi pembunuhan oleh orang Madura atas seorang suku Dayak, pelakunya tidak tertangkap, pengusutan / penyelesaian secara hukum tidak ada.
    1983, Kasongan, seorang warga Kasongan etnis Dayak di bunuh (perkelahian 1 (satu) orang Dayak dikeroyok oleh 30 (tigapuluh) orang madura). Terhadap pembunuhan atas
    1996, Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa di gedung bioskop Panala dan di bunuh dengan kejam (sadis) oleh orang Madura, ternyata hukumannya sangat ringan.
    1997, Barito Selatan orang Dayak dikeroyok oleh orang Madura dengan perbandingan kekuatan 2:40 orang, dengan skor orang Madura mati semua, tindakan hukum terhadap orang
    Dayak: dihukum berat. Orang Dayak tersebut diserang dan mempertahankan diri menggunakan ilmu bela diri? dimana penyerang berhasil dikalahkan semuanya.
    1997, Tumbang Samba, ibukota Kecamatan Katingan Tengah, seorang anak laki-laki bernama Waldi mati terbunuh oleh seorang suku Madura yang ? tukang jualan sate?. Si belia Dayak mati secara mengenaskan, ditubuhnya terdapat lebih dari 30 (tigapuluh) bekas tusukan. Anak muda itu tidak tahu menahu persoalannya, sedangkan para anak muda yang bertikai dengan si tukang sate telah lari kabur ?.Yang tidak dapat dikejar oleh si tukang sate itu, si korban Waldi hanya kebetulan lewat di tempat kejadian.
    1998, Palangka Raya, orang Dayak dikeroyok oleh 4 (empat) orang Madura, pelakunya belum dapat ditangkap karena melarikan diri dan korbannya meninggal, tidak ada penyelesaian secara hukum.
    1999, Palangka Raya, seorang petugas Tibum (ketertiban umum) dibacok oleh orang Madura, pelakunya di tahan di Polresta Palangka Raya
    1999, Palangka Raya, seorang Dayak dikeroyok oleh beberapa orang suku Madura, masalah sengketa tanah; 2 (dua) orang Dayak dalam perkelahian tidak seimbang itu mati semua, sedangkan pembunuh lolos, malah orang Jawa yang bersaksi dihukum 1,5 tahun karena dianggap membuat kesaksian fitnah terhadap pelaku pembunuhan yang melarikan diri itu.
    1999, Pangkut, ibukota Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, terjadi perkelahian massal dengan suku Madura, gara-gara suku Madura memaksa mengambil emas pada saat suku Dayak menambang emas. Perkelahian itu banyak menimbulkan korban pada ke dua belah pihak, tanpa penyelesaian hukum.
    1999, Tumbang Samba, terjadi penikaman terhadap suami-isteri bernama IBA oleh 3 (tiga) orang Madura; pasangan itu luka berat. Dirawat di RSUD Dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya, biaya operasi /perawatan ditanggung oleh Pemda Kalteng. Para pembacok / pelaku tidak ditangkap, katanya? sudah pulang ke pulau Madura sana!. (Tiga orang Madura memasuki rumah keluarga IBA dengan dalih minta diberi minuman air putih, karena katanya mereka haus, sewaktu IBA menuangkan air di gelas, mereka
    2000, Pangkut, Kotawaringin Barat, 1 (satu) keluarga Dayak mati dibantai oleh orang Madura, pelaku pembantaian lari, tanpa penyelesaian hukum. Tahun 2000, di Palangka Raya, 1 (satu) orang suku Dayak di bunuh / mati oleh pengeroyok suku Madura di depan gedung Gereja Imanuel, Jalan Bangka. Para pelaku lari, tanpa proses hukum.
    2000, Kereng Pangi, Kasongan, Kabupaten Kotawaringin Timur, terjadi pembunuhan terhadap SENDUNG (nama kecil). Sendung mati dikeroyok oleh suku Madura, para pelaku kabur / lari, tidak tertangkap, karena lagi-lagi ?katanya? sudah lari ke Pulau Madura, proses hukum tidak ada karena pihak
    2001, Sampit (17 s/d 20 Februari 2001) warga Dayak banyak terbunuh / dibantai. Suku Madura terlebih dahulu menyerang warga Dayak.

Kejadian-Kejadian Sebelum Puncak Kerusuhan (Perang Terbuka antara Dayak dan Madura)

Tanggal 18 Februari 2001

    Pkl.01.00 WIB terjadi peristiwa pertikaian antar etnis diawali dengan terjadinya perkelahian antara Suku Madura dengan kelompok Suku Dayak di Jalan Padat Karya, yang mengakibatkan 5 (lima) orang meninggal dunia dan 1 (satu) orang luka berat semuanya dari Suku Madura.
    Pkl. 08.00 WIB terjadi pembakaran rumah Suku Dayak sebanyak 2 (dua) buah rumah yang  dilakukan oleh kelompok Suku Madura dan 1 (satu) buah rumah Suku Dayak dirusak dan dijarah oleh kelompok Suku madura. Kejadian ini mengakibatkan 3 (tiga) orang meninggal semuanya dari Suku Dayak.
    Pkl. 09.30 WIB pengiriman Pasukan Brimob Polda dari Kalimantan Selatan sebanyak 103 personil dengan kendali BKO Polda Kaliteng untuk pengamanan di Sampit dan tiba Pkl. 12.00 WIB
    Pkl. 10.00 WIB sebanyak 38 (tiga puluh delapan) orang tersangka dari kelompok Suku Dayak atas kejadian tersebut di atas diamankan ke MAPOLDA Kalteng di Palangka Raya dan menyita beberapa macam senjatantajam sebanyak 62 buah.
    Pkl. 20.30 WIB ditemukan 1 (satu) orang mayat dari kelompok Suku Dayak di Jalan Karya Baru, Sampit.

Tanggal 19 Februari 2001

    Pkl. 02.00 WIB terjadi pembakaran 1 (satu) buah mobil Kijang milik Suku Madura di Jalan Suwikto, Sampit.
    Pkl. 16.00 WIB ditemukan mayat sebanyak 4 (empat) orang dan 1 (satu) orang luka bakar semuanya dari Suku Dayak di Jalan Karya Baru, Sampit.
    Pkl. 17.00 WIB diadakan sweeping oleh Petugas aparat keamanan terhadap kelompok Suku Madura dan kelompok Suku Dayak di Sampit.
    Penangkapan 6 (enam) orang Suku Dayak tersangka berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tersangka yang telah ditahan sebelumnya, dan diamankan di Polres Kotim.
    Pkl. 22.00 WIB Wakil Gubernur Kalimantan Tengah dan DANREM 102/PP bersama  pasukan dari Yonif 631/ATG sebanyak 276 orang menuju Sampit dan tiba Pkl. 03.00 WIB.
    Pada tanggal 18 dan 19 Februari 2001 kota Sampit sepenuhnya dikuasai oleh Suku Madura yang menggunakan senjata tajam dan bom molotov.

Tanggal 20 Februari 2001

    Pkl. 08.30 WIB diadakan pertemuan antara DANREM 102/PP, KAPOLDA dan Wakil Gubernur dan MUSPIDA Kabupaten Kotawaringin Timur dengan tokoh masyarakat di Sampit ( Tokoh Dayak, Madura dan Tokoh Masyarakat Sampit) untuk mengupayakan penghentian pertikaian dan dilanjutkan dengan pemantauan ke lokasi pertikaian dengan mengadakan dialog dengan warga yang bertikai.
    Warga yang ketakutan karena kerusuhan dan sweeping disertai pembakaran rumah yang dilakukan oleh Suku Madura terhadap Suku Dayak mengungsi ke Gedung Balai Budaya Sampit, Gedung DPRD Kotawaringin Timur dan Rumah Jabatan Bupati Kotawaringin Timur sebanyak 702 KK (2.850 orang) bukan Suku Madura dan sebagian warga non Madura mengungsi ke Palangka Raya.

Kronologis Perang Terbuka antara Dayak dan Madura
Asal Mula Penyebab Kerusuhan Sampit (KALTENG)
18 Februari warga Madura mula menguasai Sampit. Dengan  mengacung-acungkan senjata, puluhan warga Madura pawai keliling kota. Mereka menggunakan berbagai kendaraan, mulai roda dua sampai roda empat. Mereka tak hanya berpawai. Setiap bertemu warga Dayak, mereka mengejar dan membunuhnya. Sedikitnya, sepuluh rumah dibakar.Tujuh orang tewas saat warga Madura menguasai Sampit. Bahkan, seorang ibu muda hamil tujuh bulan ikut dibunuh dengan dirobek perutnya. “Itu fakta,” kata Bambang Sakti, tokoh muda Dayak asal Sungai Samba. Situasi itu membuat Sampit Minggu malam mencekam. Listrik padam total. Pembakaran di perkampungan warga di Jalan Baamang berlangsung sporadis. Pengungsi mulai membanjiri gedung pertemuan di depan rumah jabatan bupati sampit. Tapi, kemudian dialihkan ke kantor bupati. Yang mengungsi bukan hanya warga Madura. Juga Dayak dan Cina. Mereka berdesak-desakan mengungsi. Ini terjadi karena mereka belum tahu betul siapa yang menguasai jalanan di Sampit malam itu: Madura atau Dayak.  Di pengungsian, Madura dan Dayak malah rukun. “Saya saat itu ikut mengungsi,’ ujar seorang wartawan lokal. Untuk menghadang orang Dayak keluar-masuk Sampit, warga Madura melakukan penjagaan di pertigaan Desa Bajarum yang mengarah kota Kecamatan Kota Besi. Penjagaan juga terjadi di Perenggean, Kecamatan Kuala Kuayan, dan desa-desa pedalaman Hilir Mentayan. Selama berpawai itu, warga Madura terus berteriak-teriak mencari tokoh Dayak. “Mana Panglima Burung? Mana tokoh Dayak?” tantang mereka.

Tak hanya itu, seorang tokoh Madura melakukan orasi lewat pengeras suara, “Sampit akan jadi Sampang kedua, Sampit jadi Sampang Kedua”. Mereka juga memasang spanduk: Selamat datang orang Dayak di kota Sampang, Serambi Mekkah. “Spanduk itu yang kami cari sekarang,” kata Bambang Sakti. Bambang juga bilang telah menemukan sejumlah bom di rumah-rumah warga Madura. “Ini bukan isapan jempol,” tuturnya. Sedikitnya, pasukan Dayak sudah menyerahkan 300 bom yang ditemukan di rumah warga Madura. Begitu juga beberapa pucuk pistol. “Tidak tahu bagaimana tindak lanjutnya,” jelasnya. Kabarnya, bom-bom itu dirakit di Jawa, lalu dikirimkan ke Sampit. Tapi, sumber Jawa Pos menyebutkan, bom rakitan dibuat di Sampit. Lalu, didistribusikan ke berbagai warga Madura di kecamatan. Mereka bilang bom itu untuk mempertahankan diri jika sewaktu-waktu diserang warga Dayak. Tapi, karena bom itu pula, 112 warga Madura di Kecamatann Perenggean dibantai di lapangan kecamatan. Ini setelah warga Dayak menemukan bom di rumah seorang warga Madura
Asal Mula Penyebab Kerusuhan Sampit (KALTENG)
Melihat aksi penguasaan warga pendatang itu, warga Dayak tak tinggal diam. Mereka lantas membawa bala bantuan pasukan dari Dayak pedalaman. Warga Dayak yang tiba lebih dulu melakukan perlawanan sporadis. Selasa malam (20 Februari), peta kekuatan mulai berbalik. Warga Dayak pedalaman dari berbagai lokasi daerah aliran sungai (DAS) Mentaya,seperti Seruyan, Ratua Pulut, Perenggean, Katingan Hilir, bahkan Barito berdatangan ke kota Sampit melalui hilir Sungai Mentaya dekat pelabuhan.  Pasukan Dayak pedalaman yang rata-rata berusia muda tak lebih 25 tahun membekali diri dengan berbagai ilmu kebal. Jumlahnya sekitar sekitar 320 orang. Pasukan itu lalu menyusup ke daerah Baamang dan sekitarnya, pusat permukiman warga Madura.  Meski dalam jumlah kecil, kemampuan bertempur pasukan khusus Dayak sangat teruji. Buktinya, mereka mampu memukul balik warga Madura yang terkosentrasi di berbagai sudut jalan Sampit. Dengan ilmu kebal, mereka melawan ribuan warga Madura. Bahkan, mereka sanggup menghadapi bom yang banyak digunakan warga Madura.

Dalam bentrok terbuka, seorang warga Madura melemparkan bom ke arah pasukan Dayak. Tapi, bom dapat ditangkap dan dilemparkan kembali ke arah kerumunan Madura. Meledak. Puluhan warga Madura tewas seketika. Selain kebal senjata, pasukan Dayak pedalaman tidak mempan ditembak. Mereka justru memunguti peluru untuk dikantongi. Karena itu, polisi juga keder. Sejak itu, mental Madura pun langsung down. Strategi yang diterapkan warga Dayak dalam serangan balik cukup jitu. Selain masuk lewat Baamang, sekitar empat perahu penuh pasukan dayak tidak langsung merapat ke bibir sungai. Mereka berhenti di seberang sungai Mentaya. Baru berenang menuju kota pinggir sungai di tepian kota Sampit. Strategi ini untuk menghindari pengawasan orang Madura. Lantas, secara tiba-tiba, mereka muncul dan menyerang permukiman Madura. Madura pun dibuat kocar-kacir. Pasukan Dayak pedalaman terus bergerak ke kantong-kantong tokoh Madura. Seperti, Jalan Baamang III, Simpong atau dikenal Jalan Gatot Subroto, dan S. Parman. Rumah tokoh Ikatan Keluarga Madura (Ikama) Haji Marlinggi yang cukup megah di Jalan DI Panjaitan tak luput dari sasaran. Banyak pengawal penguasa Pelabuhan Sampit itu yang terbunuh. Sebagian lari. Sejumlah becak bekas dibakar berserakan di halaman rumah yang hancur. Rumah tokoh Madura lain seperti Haji Satiman dan Haji Ismail juga dihancurkan. Tidak terkecuali rumah Mat Nabi yang dikenal sebagai jagonya Sampit. Padahal, rumah tokoh-tokoh Madura yang berada di Sampit, Samuda, maupun Palangkaraya tergolong cukup mewah. Serangan pasukan inti Dayak kemudian diikuti warga Dayak lain. Mereka mencari rumah dan warga di sepanjang kota Sampit. Ratusan warga Madura dibunuh secara mengenaskan, lalu dipenggal kepalanya.

Hari-hari berikutnya gelombang serangan suku Dayak terus berdatangan. Bahkan, sebelum menyerang, seorang tokoh atau panglima Dayak lebih dulu membekali ilmu kebal kepada pasukannya.  Karena itu, saat melakukan serangan, biasanya mereka berada dalam alam bawah sadar. Uniknya, mereka juga dibekali indera penciuman tajam untuk membedakan orang Madura dan non-Madura. “Dari jarak sekitar 200 meter, baunya sudah tercium,” ujar Itu tak berlebihan. Saat ada evakuasi, di tengah jalan seorang warga Madura disusupkan. Dia dikelilingi warga non Madura. Sebelum masuk ke loksi penampungan, mereka kena sweeping Dayak. Meski orang itu ada di tengah pengungsi, masih juga tercium dan disuruh turun. Tanpa ampun, laki-laki tadi dibantai. Agar serangan ke perkampungan Madura terkendali, para komando warga Dayak menggunakan Hotel Rama sebagai pusat komando penyerangan. Bahkan, di hotel itulah pasukan diberi ramuan ilmu kekebalan oleh para panglima.  Saat digerebek, aparat menemukan beberapa kepala manusia. Tapi, para tokohnya sempat meloloskan diri. Kini, di depan hotel bertingkat dua itu dibentangkan police line. Berada di atas angin, pasukan Dayak lalu melebarkan serangan ke berbagai kota Kecamatan Kotawaringin Timur. Sasaran pertama, Samuda, ibu kota Kecamatann Mentaya Hilir Selatan, dan Parebok yang banyak dihuni warga Madura. Samuda dan Parebok jadi sasaran setelah Sampit karena banyak tokoh Madura tinggal di daerah itu. Di Parebok juga ada Ponpes Libasu Taqwa. Ponpes yang diasuh Haji Mat Lurah ini juga dijadikan tempat berlindung banyak warga Madura. Warga Madura di kecamatan lain pun tidak lepas dari buruan. Misalnya, Kuala Kuayan. Ratusan korban jatuh dengan kepala terpenggal. Kini, warga Dayak praktis menguasai hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Kecuali Pangkalan Bun. Kota ini aman karena hampir tak ada warga Madura yang tingga di semua kota kecamatan.  Penghuninya, saat itu, banyak yang lari menyelamatkan diri ke hutan, baik Palangkaraya, Sampit, maupun Samuda.

Total Jumlah Korban Kerusuhan Sampit
Dalam pelayaran menyusuri Sungai Mentaya (70 km), ABK dan pengungsi bisa Melihat puluhan mayat yang mengapung di sepanjang sungai, dan sejumlah Bangunan rumah warga Madura dan Pasar Sampit/Pasar Ganal yang tinggal temboknya yang hangus. Dikatakan seorang pengungsi yang bekerja di penggergajian kayu, PT Sempagan Raya Sampit, Abdul Sari (30), bahwa yang tampak di sungai saja ada puluhan yang mengapung dan tersangkut di pinggir. Sementara yang hanyut dan tenggelam lebih dari 200 warga etnis Madura. “Ini baru yang di sungai, belum yang terserak di pinggir sepanjang Jl. Masjid Nur Agung saja tidak kurang dari 200 mayat,” katanya. Sementara di Jl. Sampit Pangkalan Bun, saat ini masih banyak mayat yang bergelimpangan di tepi jalan. Mayat-mayat itu hanya ditutupi dengan batu koral yang dibungkus karung sak. Tidak ada yang menolong untuk dimakamkan, kami tidak mungkin untuk melakukan itu. Sedang untuk bisa lolos dari kejaran dan tebasan mandau Dayak saja sudah bersyukur. Abdul Sari juga mengatakan, sekarang pasukan Dayak tidak lagi membedakan siapa yang akan dibunuh. Awalnya yang diserang hanya etnis Madura, tapi kini semua pendatang, termasuk orang Jawa, dan Cina. Mereka bukan hanya ditebas lehernya saja, tapi juga dipenggal jadi beberapa potong. Di mata etnis Madura, polisi setempat sudah kehilangan kepercayaannya lagi. Mereka (warga etnis Madura) mengaku, siangnya di sweeping dan senjatanya disita petugas, dan mereka (petugas) mengatakan, semua sudah aman dan tidak ada apa-apa lagi. Maka warga etnis Madura di Jl. Sampit Pangkalan Bun tenang-tenang saja dan percaya pada petugas. Ternyata malamnya diawali dengan suara kuluk,… kuluk,… kuluk,… sebentar kemudian pasukan Dayak muncul dan membunuhi warga Madura.

Tidak ada yang tersisa, mereka yang menyerah maupun yang lari dibunuh. Umumnya mereka diserang pada malam hari, ratusan Dayak dengan suara kuluk…, kuluk…, sambung-menyambung muncul dari segala penjuru. Esoknya warga etnis Madura mati mengenaskan dengan badan tanpa kepala lagi. Parebuk Menurut warga etnis Madura yang ikut KRI Teluk Ende, Sopian (56), warga yang banyak mati dari daerah Parebuk, Semuda. Karena warga Madura yang ada di sini tidak menghindar tapi melakukan perlawanan sengit. “Saat ini di sana yang tersisa tinggal wanita dan anak-anak,” kata Sopian. Sopian yang datang ke pengungsian dengan jalan menyusuri sungai mengatakan, dia berjalan sambil sembunyi-sembunyi di antara pohon hutan yang cukup lebat. Ternyata setelah 7 hari di pengungsian ia hanya melihat beberapa warga Madura dari Semuda. Berarti ada sedikitnya 500 orang Madura yang tewas melawan Dayak di Semuda. “Kalau masih hidup seharusnya perjalanan mereka tidak lebih dari satu atau dua hari saja,” kata Sopian. Sopian bersama pengungsi lain yang ada di pengungsian pun mengaku masih dibayang-bayangi pasukan suku Dayak. Bahkan ada isu bahwa kamp pengungsian di halaman Pemda Sampit akan diserbu oleh Dayak. Hal ini membuat warga Madura yang ada di pengungsian menjadi resah, di samping mereka sudah ketakutan, juga mereka sudah tidak memiliki senjata lagi. Menurut Kilan, sejumlah orang Dayak membawa mayat orang Madura dengan geledekan keliling kota. Tidak sampai di situ, geledekan yang berisi orang Madura ditinggal begitu saja di depan Polres Sampit, Jl. Sudirman.Kekesalan warga Madura terhadap oknum polisi di Polsek Jl. Ba Amang Tengah semakin menjadi, seperti yang diungkapkan oleh Somad yang mendatangi kantor Polsek. Ia minta perlindungan setelah dikejar-kejar oleh sekitar 50 Dayak, Somad minta diantar ke tempat pengungsian. Kapolsek bukannya menolong tapi justru memanggil Dayak yang ada di sekitar situ. Somad mengaku lari ke belakang, dengan melompat lewat pintu belakang Polsek ia akhirnya lolos lari ke semak-semak. Ia sempat merangkak sejauh 300 m sebelum lepas dari kejaran Dayak dan lari ke hutan. Dari hutan ini ia menyusuri tepian hutan dan akhirnya sampai ke tempat pengungsian. Ia pun bersyukur karena bisa ketemu dengan anak istrinya. Seorang pengungsi, Choiri (40), dari Pasuruan mengatakan, ada peristiwa yang sangat mengenaskan dari daerah Belanti Tanjung Katung, Sampit. Sebanyak 4 truk pengungsi Parengkuan yang dibawa oleh orang yang mengaku petugas dengan mengatakan akan dibawa ke tempat penampungan pengungsi di SMP 2, akhirnya dibantai habis. Ternyata mereka yang mengaku petugas adalah pasukan Dayak, orang Madura disuruh turun dan dibantai. “Jika tiap truk berisi 50 pengungsi berarti ada 200 pengungsi yang tewas dibantai,” kata Choiri. Choiri mengatakan, yang dibantai itu semuanya wanita dan anak anak.

Begitu jemputan yang kedua tiba, yang diangkut adalah orang laki-laki dewasa, justru mereka selamat tidak di tempat pengungsian karena dikawal oleh Brimob dari Jakarta. Liar Pengakuan seorang pengungsi, Titin (19), asli Lumajang, yang tinggal di Jl. Pinang 20 Sampit mengatakan, suaminya yang asli Dayak Kapuas yang kini ikut pasukan Dayak. Ia menceritakan, suaminya pernah bercerita padanya, mengapa orang Dayak menjadi pandai berkelahi dan larinya cepat bagai kijang. Awalnya suaminya enggan menjadi pasukan Dayak untuk membunuhi orang Madura. Tapi karena dihadapkan pada satu di antara dua pilihan, jadi pasukan atau mati, terpaksa suaminya memilih jadi pasukan Dayak. Saat itu ia disuruh minum cairan yang membuatnya ia menjadi berani, kemudian alisnya diolesi dengan minyak yang membuat ia melihat bahwa orang Madura itu berwujud anjing dan akhirnya harus diburu dan dibunuh. Makanya orang Dayak tidak punya takut, tidak punya rasa kasihan, ini menurut Titin karena sudah diberi minuman dan olesan minyak tertentu. Sehingga mereka mirip dengan jaran kepang yang sedang kesurupan, mungkin mereka kerasukan roh nenek moyangnya dan membunuh sesuai dengan perintah panglima perang suku Dayak. (R Dewanto Nusantoro)

Akhir Konflik
Kerusuhan sampit yang menjalar hingga kesegala penjuru kalimantan tengah benar-benar berakhir sekitar bulan Maret pertengahan. Untuk memperingati akhir konflik ini dibuatlah perjanjian damai antar suku dayak dan madura. Perjanjian itu tertulis dalam sebuah buku yang berisi beberapa persyaratan dan hal-hal lainnya. Selain itu untuk memperingati perjanjian damai itu, dibangun sebuah tugu perdamaian di Sampit.
Bundaran Burung
Tambahan:

    Hingga saat ini di kota Sampit masih terlihat bekas-bekas kerusuhan 13 Tahun silam, bekas pembakaran rumah, gedung, dan rumah2 kosong yang tak jelas penghuninya
    Terdapat kuburan masal bagi korban kerusuhan sampit, jika ingin inforasi lebih detail mengenai kuburan masal korban tragedi sampit bisa baca Di Sini.
    Ketika terjadi kerusuhan para pasukan dayak mengidentikan dirinya dengan kain berwarna merah yang diikat di kepala/senjata yg digunakan.
    Tidak sampai 1 tahun dari akhir kerusuhan, orang-orang madura mulai berdatangan ke sampit lagi.
    Setelah akhir kerusuhan presiden Abdurrahman Wahid melakukan kunjungan ke Sampit.
    Sejak akhir kerusuhan hingga sekarang Sampit mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat baik dibidang ekonomi maupun industri.
    Sampit kini menjadi kota yang damai, sejahtera, penduduknya rukun, dan jangan takut ketika mendengar kata ''Sampit''. Jangan takut juga untuk berkunjung atau berwisata ke kota Sampit.

Sunday, October 23, 2016

SCP 201 [Empty World]





Item : SCP-201
Object Class: Euclid


SCP-201 adalah bagian dari peralatan medis yang sngat tua, atau mirip IV dengan mode berdiri, tapi dengan lebih banyak unsur kaca dan logam didalamnya. SCP-201 memiliki panjang1,8 m (6 ft) dan memiliki berat 36,5 kg (80 lbs). Bagian logam terbuat dari baja dan kuningan, dan bagian lainnya terhubung dengan pipa karet. Dua buah "tas IV" terbuat dari porselin dan dibuka di bagian atas. SCP-201 ditemukan di Rumah Sakit ████████████████, dan sudah sangat lama tidak digunakan. sebelumnya tidak adacatatan apapun dari SCP-201 pernah muncul di rumah sakit manapun.
SCP-201 dapat membuat subjek memasuki dunia lain . Efek ini biasanya bersifat acak, dengan beberapa subjek yang tidak terpengaruh bahkan setelah terpapar oleh SCP-201. subjek yang terkena dampak akan merasa tidak ada dalam realita sekarang antara satu dan empat puluh delapan jam setelah paparan awal. Durasi perpindahan bervariasi antara beberapa jam hingga delapan tahun. subjek yang memasuki realita yang diciptakan SCP ini menghabiskan waktu yang sangat berbeda dengan dunia kita (waktu disana sangat rusak)

dunia alternatif ini dapat muncul dengan sendirinya, berikut adalah keadaan di dunia alternatif itu:
dunia ini terlihat seperti saat senja, dengan tidak adanya matahari atau bulan yang terlihat.
kumpulan kabut yang berwarna abu-abu muncul di daerah paling bawah. Kabut-kabut ini tidak terpengaruh oleh angin (maksudnya tidak bergerak walau dihembus angin), dan dapat membuat kulit terasa sangat lengket dan kotor bila menyentuh kabut itu.
Tidak ada tanaman atau hewan yang hidup di dunia ini. Semua tempat tinggal manusia, termasuk kota-kota besar, tampak seolah-olah telah menghilang di dunia ini.
di dunia ini juga tidak terdapat aliran listrik.
warna langit di dunia ini adalah coklat tua dan keabu-abuan, dan diselimuti angin yang sangat kencang dimanapun.
Subyek yang telah pernah memasuki dunia ini mengaku kalau mereka memiliki rasa kesepian dan rasa takut yang teramat-sangat setelah keluar dari dunia itu. bahkan ada beberapa subjek yang butuh waktu berbulan-bulan untuk menghilangkan efek ini.

(Subjek kemungkinan adalah para agen SCP sendiri)

SCP 236 [Mimic "Crabs"]




Item : SCP-236
Class : Keter

SCP-236 adalah kepiting rawa yang berukuran mikroskopis. walaupun kepiting tetapi makhluk ini tidak cocok dengan keluarga krustasea manapun. SCP-236 berpikir melalu kecerdasan kolektif atau "pikiran yang berada dicangkang".
kawanan kepiting rawa (SCP ini bukan hanya satu, tapi banyak) biasanya menunjukan tanda kecerdasan untuk menjadi predator, dan menjadi jauh lebih agresif daripada hanya sendiri.Kawanan SCP ini menunjukkan bakat dengan pemecahan masalah, taktik, dan "mencuri".Selain itu, kawanan SCP ini dapat merubah bentuk menjadi beberapa benda mati, seperti pintu, kursi, atau bahkan pola mirip lukisan dalam waktu yang cukup lama. proses mimikri para kepiting ini sangat sempurna, hingga membutuhkan ketelitian untuk membedakannya dengan benda mati. Kawanan kepiting ini bahkan kadang-kadang akan menghancurkan benda-benda yang ada dan menggantinya untuk upaya penyamaran yang lebih baik.
SCP-236 dapat menambah kawanan lain dengan setiap bahan organik. termasuk kayu, kapas, atau bahan lain yang berasal dari sumber organik. SCP-236 menghancurkan setiap materi-materi kecil dari bahan-bahan itu dengan menggunakan capit mereka , mengkonsumsi materi kecil itu, kemudian berbaring untuk bertelur dan telur itu akan menetas setiap sepuluh menit. SCP-236 yang baru menetas terlihat sama dengan SCP-236 yang sudah dewasa, hanya saja ukurannya yang lebih kecil, dan tidak memiliki bahan kimia apapun yang dapat digunakan untuk melindungi diri. SCP yang baru menetas akan mencapai ukuran dewasa setelah enam jam.
kawanan SCP-236 tampaknya takut pada cahaya, gerakan cepat, dan suara keras. Ketakutan ini berkurang secara proporsional dengan jumlah kawanan yang ada di gerombolan mereka, tapi sebanyak apapun jumlah kawanan kepiting ini, mereka tetap takut pada bunyi klakson dan cahaya yang sangat terang. Kawanan SCP-236 yang terkejut akan langsung meniru suatu objek dengan cepat dan menggabungkan diri dengan kepiting lainnya, yang kemudian akan diam untuk bersembunyi. Butuh waktu hingga 24 jam agar kawanan kepiting ini dapat menjadi suatu objek dengan utuh (misalnya pintu atau lemari).
Ketika terpojok, atau tidak dapat melarikan diri dengan cepat, kawanan SCP-236 akan mulai melakukan "respon defensif" mereka. mereka akan menaikkan capitnya, dan kemudian meledakkan diri yang setara dengan ledakan C-4 (wuanjir :v selain mampu menjadi objek lain, kepiting kecil ini juga bahaya banget ya :v ibarat nuklir kecil bernyawa *awesome). hasilPenelitian awal menunjukkan kalau ini adalah hasil dari reaksi kimia internal yang melibatkan pencampuran tiga bahan kimia berbahaya.
SCP-236 akan menggunakan manusia atau makhluk hidup lain sebagai sumber daya, demi kelangsungan kelompok mereka yang sangat banyak itu . beberapa kawanan saja dapat menghabiskan satu manusia untuk menjadi bahan konsumsi dalam waktu kurang dari 5 menit (awalnya admin dark kira SCP ini imut2 juga kaya Dragon-Snails, ternyata mengerikan :'v ).SCP-236 juga telah diamati dapat memasuki tubuh manusia, biasanya saat subjek sedang tidur, dan mulai mengkonsumsi daging manusia tersebut dari dalam ke luar. karna perilaku SCP ini, ditambah kemampuan mimikri mereka, membuat kepiting ini sangat sulit dideteksi bila masuk ke tubuh manusia.

SCP 239 [The Witch Child]






Item : SCP-239
Object Class: Keter

SCP-239 terlihat seperti gadis 8 tahun, 1 meter tingginya dan 20 kilogram beratnya. Subjek memiliki rambut pirang sebahu. Setelah pemeriksaan lebih dekat, subjek ternyata memiliki mata "shimmer" (bercahaya) dengan warna abu-abu hijau. Subjek tampaknya memancarkan suatu bentuk radiasi yang belum pernah ditemukan sebelumnya, radiasi ini bernama ███████████ (disensor). Gelombang radiasi ini tampaknya tidak berbahaya dalam konsentrasi rendah tetapi dalam konsentrasi yang lebih tinggi mereka bisa memecah materi pada tingkat sub-atomik (intinya kalau dalam gelombang tinggi, ente bisa meledak menjadi sekumpulan bakteri).
SCP-239 juga memiliki kemampuan untuk mewujudkan apapun yang dia inginkan.Sederhananya, subjek dapat melakukan apapun yang dia benar-benar inginkan menjadi kenyataan tapi pada tingkat psikologis basal dan selama dia sadar. Untungnya, dia hanya dapat melakukan kemampuannya itu hanya disekitarnya saja; Oleh karena itu, "Jika dia bisa melihatnya, dia bisa mengubahnya." Ini bukanlah hal yang bijak untuk menganalisa kemampuan SCP ini, namun, hal ini harus dilakukan agar mengetahui seberapa besarkah kemampuannya ini. Dia juga mampu menciptakan dan mengendalikan makhluk yang bernyawa; contohnya, ketika personel kelas D sengaja menyakitinya, SCP ini dapat membuat Personil kelas D itu menghilang entah kemana Untungnya, ketika Subjek merasa bersalah atas apa yang dilakukannya, dia akhirnya mengembalikan personil kelas D tersebut. SCP-239 diri-pelestarian naluri membuatnya hampir tak terkalahkan saat dia sadar. kulit subjek tidak dapat ditusuk oleh apapun selain SCP-148.
metode untuk mengendalikan kemampuan subjek, dia telah diberitahu bahwa dia adalah seorang penyihir. karna, disamping meningkatkan moral, juga membuat dia (SCP-239) percaya bahwa ia tidak akan mampu untuk menggunakan kemampuannya kecuali telah diizinkan personil SCP. Ini diharapkan mampu mencegah SCP ini untuk melarikan diri atau membuat kekacauan. Namun, subjek harus tetap tenang setiap saat agar tidak mempengaruhi alam bawah sadarnya dan menyakiti dirinya sendiri atau orang lain (agen SCP) bahkan SCP lain.
Negara Asal: SCP-239 datang ke Yayasan SCP tidak lama setelah kelahirannya di █████████, ███████. Sekitar tiga jam setelah lahirnya subjek, Rumah Sakit ███████ █████ dihancurkan oleh sebuah ledakan yang tidak dapat diketahui asalnya. Pers diberitahu bahwa itu adalah karena kebocoran gas. tim SCP pun segera dikirim kesana untuk meneliti adanya kelainan. namun setelah tim SCP menuju kesana, satu-satunya manusia yang selamat hanyalah SCP-239. Selama delapan tahun ke depan, subjek dibesarkan di bawah perlindungan SCP (duuhh.. mungkin karna ini ya, SCP-239 baik banget sama semua agen :3 terus berjuang ya para agen SCP *plak).
sekarang, SCP-239 berada dalam Situs-17.
Laporan dari Dr. Clef (bukan dr. clef yang jadi SCP-001 loh ya -_-):
"Analisis saya dari situasi yang ada telah membawa saya pada kesimpulan bahwa SCP-239 merupakan subjek yang tidak dapat ditampung dan memiliki tingkat resiko yang tinggi.Meskipun beberapa proposal telah dibuat ulang: menggunakan nya untuk menampung SCP lainnya, contoh SCP-953 dan SCP lainnya yang berbahaya harus dijadikan pengingat betapa besar resikonya terhadap yayasan, kecuali yayasan ini mempunyai kekuatan yang besar.

Karena itu saya ingin membuat proposal berikut: agar menaruh suatu alat yang dapat menusuk yang akan dibangun pada SCP-148 (SCP-148 adalah tempat tidur SCP-239 ya temen2), yang mampu menembus kulit SCP-239 ini. Alat ini akan digunakan untuk membunuh SCP-239 saat dia tertidur dan kekuatannya bisa dinetralkan. Karena bahaya SCP-239 bila dia bangun dan resiko kehancuran, itu adalah rekomendasi saya untuk yayasan ini, bahkan jika perlu SCP-668 juga dimusnahkan saja demi mengurangi resiko bahaya.
Salah satu bahaya dari prosedur ini adalah kemungkinan bahwa SCP-239 akan terbangun dan merasa bahwa semua orang adalah temannya dan baik padanya sehingga dengan kemampuannya yang bisa merealisasikan khayalannya maka akan membuat hal itu menjadi kenyataan.
- Clef"

Wajah asli SCP 239

SCP 250 [Living Allosaurus Skeleton]



Item : SCP-250
Object Class: Euclid

SCP-250 adalah kerangka dari fosil allosaur (namun, diidentifikasi sebagai Allosaurus fragilis. bagaimanapun, sebuah artikel ilmiah tidak lengkap milik ahli paleontologi Dr █████████ mengatakan bahwa klasifikasi jenis fosil ini mungkin saja salah) . kerangka Ini terdiri dari 153 tulang disarticulated, dan 14 tulang pengganti yang terbuat dari plester-dan-fiberglass, yang disatukan oleh kekuatan yang tak diketahui. Studi untuk mengetahui kekuatan ini terhalang oleh perilaku agresif SCP-250, yang telah diakses oleh tim palaeozoologists milik SCP yang tahu betul tentang dinosaurus.SCP-250 bertingkah seperti dinosaurus yang benar-benar hidup: SCP ini akan keluar kandang pada siang hari (mungkin untuk mencari makan ya temen-temen), kemudian memasuki keadaan dormansi (Dormansi adalah suatu keadaan berhenti tumbuh yang dialami organisme hidup) pada malam hari, dan akan mencoba untuk membunuh dan melahap apa pun yang dirasa cocok sebagai mangsa (kalau udah dikunyah terus masuk kemana ya? kan tulang semua ._. admin dark bingung :v ), termasuk manusia.kurangnya organ tampaknya tidak mempengaruhi perilaku predatornya, namun sisa-sisa mangsa yang dikonsumsinya pasti akan jatuh dari dalam tengkorak, leher, dan tulang rusuk (lol, gak guna dong dia makan :v )SCP-250 pertama kali digali dan terlihat masih menjadi kerangka sebanyak 80% di daerah [dihapus], pada 19██; catatan dari penggalian tidak menemukan kejanggalan apapun pada fosil ini. paa 19██, fosil ini dipindahkan ke ████████ Museum bernama █████████████ [dihapus], di mana makhluk ini ditaruh, dipasang, dan dipajang.Pada malam ditahun ██ / ██ / 20██, SCP-250 menyerang dan membunuh seorang penyusup di museum itu. atas laporan dari pihak museum, yayasan SCP pun mengambil alih tengkorak ini.

SCP 258 [Weeping Frog]


Item : SCP-258
Object Class: Safe

SCP-258 didapat dari ██████████, setelah para orang tua dari sekolah taman kanak-kanak setempat melaporkan bahwa cerita dari 'katak sedih yang memantul' yang diceritakan oleh anak-anak mereka adalah benar. Agen F███ kemudian membawa SCP ini ke yayasan dan menggantinya dengan replika tanpa ada insiden.
SCP-258 adalah sebuah patung mainan yang bisa diduduki oleh anak-anak, dirancang untuk anak-anak TK-Sekolah dasar dan berbentuk seperti katak hijau dengan sebuah pegangan di kedua sisi kepalanya. SCP-258 memiliki mata putih dengan aliran cat putih mengalir di wajahnya, seolah-olah patung katak ini sedang menangis. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menghilangkan zat berwarna putih ini dari SCP-258; cat hijau yang ada disekitar tubuhnya bisa dilepas dengan teknik penghapusan cat biasa, tapi cat putih yang berada disekitar matanya, atau yang selanjutnya akan disebut SCP-258-1, tidak bisa; hanya memudar beberapa waktu.
SCP-258 terlihat terus dialiri oleh SCP-258-1, dengan laju konstan sekitar 0,12 liter cairan per jam. Ketika seseorang duduk di SCP-258, memegang pegangannya, dan mulai bergoyang-goyang, mereka melaporkan bahwa perasaan damai dan kepuasan tercurah atas mereka;'mata' dari SCP ini kemudian mulai mengeluarkan SCP-258-1 pada tingkat yang lebih cepat, atau relatif efeknya terhadap tingkat pikiran penggunanya (orang yang menaiki SCP-258).Meskipun zat ini tidak dapat dihapus dari SCP-258 setelah kursi dikosongkan, cairan putih itu akan terus keluar dari matanya, dan akan menetes ke tanah. Pengujian pada zat putih ini kemudian menyimpulkan kalau zat ini adalah campuran dari cat putih, air mata manusia, dan sekresi kulit katak Amerika. Bagaimana SCP-258 menghasilkan SCP-258-1 tidak diketahui.
Pengujian ulang pada SCP-258 yang dilakukan oleh seorang agen SCP membuat subjek menjadi kecandaun, dan Agen W████████ harus ditahan dan dipukul sebelum mendapatkan kembali kontrol dirinya.

Saturday, October 22, 2016

SCP 252 [Humboldt Squid]


Item #: SCP-252
Kelas Obyek : Euclid

Special Containment Procedure : SCP-252 ditahan di akuarium sebesar 150 meter kubik,diperkuat dengan pelapis baja dengan daya tarik yang tinggi.
Penjaga harus dilatih secara khusus tentang bertempur didalam air dan disenjatai dengan model B74H Senapan Tombak dengan amunisi yang melepaskan listrik dengan daya tegangan yang tinggi
Akuarium diisi dengan 15 bom laut yang akan diledakkan secara bersamaan ketika 252 Lepas
Pasangan kawin di jaga dengan pengawasan dari ahli biologi bidang satwa laut Dr. #####.
Personel dtidak boleh mendekati Akuarium Penahanan kecuali kalau mereka sudah siap dari efek ganjir dari hewan tersebut
Specimen lain dari SCP-252 Mungkin ada di alam liar. karena kemampuan menghancurkan mereka, penangkapan adalah prioritas tinggi, tingkat kesusahan berdasarkan dari besarnya spesimen yang ingin di tahan
Deskripsi : SCP -252 adalah subspesies dari Dosidicus Gigas. spesimen dewasa kelihatan lebih kecil dari rata rata, mencapai panjang yang tak sampai dari 1 m dan berat maksimal 40 kg.
pembedahan melihatkan hilangnya kandung tinta dan banyaknya chromatophores (kira kira 20 lebih banyak dari yang dewasa)
ketika terancam oleh predator atau marah, SCP-252 secara langsung bermetamorfosis menjadi kehidupan laut yang tidak diketahui dengan besar yang ekstrim dengan fisiologi yang tak menentu dan sikap menghancurkan yang ekstrim.
atribut fisik di tahap ini adalah perubahan tahap yang secara langsung.
Besar kira kira disekitar sepanjang 50 dan 75 meter dan tidak lengkap dengan 50 hingga 200 kehidupan flora disekitar tubuhnya, tentakel yang bisa sepanjang 5 m, kaki insektiflora dengan penjepit yang berduri, tangan yang seperti manusia dan kaki yang diujungnya ada seperti cakar yang tajam.
detail tubuhnya bisa berubah rubah dan susah di terka, detail yang tetap hanya ada tentakel didaerah sekitar mulut.
belum diketahui bagaimana cara dia mendapatkan pertumbuhan secara cepat dan tiba tiba .
dengan kemungkinan spesimen kabur, tidak ada riset untuk hal ini yang diperbolehkan
Semua hewan kecuali SCP-252 dan cumi cumi biasa akan kabur dari tempat dengan rute paling cepat.
respon rasa takut bisa membuat target menyakitkan diri sendiri seakan mereka kabur ke kondisi berbahaya atau menabrak dirinya sendiri ke dinding akuarium.
95% subyek yang menghadapi SCP-252 yang marah akan mendapatkan fobia cephalopods. tidak diketahui ini adalah efek ganjil dari SCP-252 atau kebiasaan yang biasa karena merasakan pengalaman yang bisa mengakibatkan trauma
atas pengecekan dari hasil rekaman keamanan di kandang, Dr.###### telah bertekad dengan hasilnya yaitu metamorfosis SCP-252 adalah halusinasi lanjutan dikarenakan dari pola perubahan chromatophores, halusinasi tersebut mengakibatkan korban melihat SCP-252 melihat makhluk laut yang sangat besar sekali dengan banyak tentakel.
detail SCP-252 sangat berbeda dari korban ke korban, tapi makhluk yang dihalusinasikannya sama yaitu sebuah cephalopod yang menggerutu dengan tentakel berlusin lusin didaerah mulutnya,dengan tambahan sebuah penjepit atau cakar, umumnya mereka elaporkan ada sebuah cairan yang secara acak berubah
Subjek dihapus dari kontak visual dengan SCP-252 akan tetap yakin bahwa halusinasi mereka nyata "rakasa laut" dan akan mencoba untuk merasionalisasi setiap kontradiksi logis yang melekat dalam khayalan mereka, seperti 100 m rakasa berenang di tertutup tangki 10 m. rasionalisasi ini dan fobia berlama-lama dianggap bentuk sugesti pasca-hipnosis.
Subyek yang melihat video SCP-252 yang bersikap agresif tetapi subyek tersbut tidak pernah melihat scp-252 marah secara langsung akan merasakan reaksi takut lebih ringan dan bisa melihat gurita tersebut meskipun dalam efek halusinasi.
subyek mendesktripsikan monster hayalan terlihat "palsu" dan "tidak mungkin" tapi tetap ketakutan melihatnya.
Setelah paparan kedua , subyek mengembangkan kekebalan parsial terhadap efek penuh kontak langsung. Diulang kontak langsung setelah "inokulasi" oleh video yang lebih mengurangi efek. subyek diaklimatisasi dapat mengembangkan kekebalan lengkap untuk efek rasa takut dan pengalaman hanya kesadaran samar dari halusinasi.

Thursday, March 31, 2016

10 Creepypasta yang Diadaptasi Jadi Film Pendek

~

~


~
Sejalan dengan cerita-cerita horror di Internet yang makin melonjak dan YouTube yang penuh sesak dengan video-video yang tak terhitung berapa banyak orang yang telah menontonnya, bahkan pembuat film profesional menjawab panggilan untuk mengadaptasi cerita-cerita menjadi film pendek. Film-film ini telah mencapai titik puncak dimana dibutuhkan keterampilan teknis yang cukup dan kreativitas untuk ikut andil dalam film tersebut.
~
10.White With Red
https://youtu.be/tl4kgoeSbNo
~

~
Kita berbicara tentang cerita berjudul "The Keyhole" sebagai alternatifnya. Seorang pria menyewa sebuah kamar hotel dan diberitahu untuk tidak melihat dan mengintip kamar di sebelahnya. Ketika dia mengabaikan hal itu,, semua yang dia lihat hanya berwarna merah. Dia berpikir bahwa seseorang mungkin meletakkan gaun berwarna merah menutupi lubang kunci. Sebenarnya, yang dilihatnya adalah mata merah mengerikan dari seorang tamu di kamar hotel itu yang sudah lama meninggal.

~
9.The Expressionless
https://youtu.be/pdapv333D-s
~

~
Cerita pendek karya Tom Lever ini disebar dan diyakini oleh cukup banyak orang di Internet, hal itu membuat cerita ini dijadikan rumor oleh situs terkenal,
snopes.com. Menceritakan bagaimana di tahun 1972, Rumah Sakit Cedar-Sinai di Los Angeles dikunjungi oleh suatu makhluk yang sangat aneh. Seorang wanita dengan wajah kosong bak manekin berkeliaran di rumah sakit itu. Gaunnya basah karena darah anak kucing, yang masih ada di dalam mulut wanita tersebut. Staff rumah sakit membawanya ke sebuah ruangan untuk menjalani perawatan. Setelah bekerja sama sebentar, wanita itu menyerang mereka. Ketika aparat keamanan tiba, dia menggigit salah satu petugas di bagian leher vital (jugularis.) Seorang dokter bertanya padanya, makhluk apakah dia. Dia tersenyum, berjalan mendekati dokter itu, membungkuk di atas dokter yang sedang meringkuk itu, dan berkata, "Aku... Adalah... Tuhan." Dia kemudian menghilang dan mulai dikenal sebagai "The Expressionless"/"Tanpa Ekspresi."

~
8.Sonic.EXE
https://youtu.be/7LBbb6r05gU
~

~
"Sonic.exe" mungkin merupakan creepypasta terburuk yang kepopulerannya pernah melonjak. Alur ceritanya: Tom menerima sebuah CD dari temannya yang menghilang, dengan catatan yang memberitahukan Tom untuk menghancurkan benda itu daripada memainkannya. Tom memasukkan kaset itu ke dalam komputernya untuk bermain game yang ada didalamnya dan mengetahui bahwa kaset itu telah di-mod dengan cara yang mengerikan. Karakter Sonic di dalam game itu bersifat jahat dan memiliki mata hitam berdarah. Sonic dengan mudah membunuh semua karakter yang Tom gunakan dalam game itu dan berjanji akan mengancam pemain di mimpi buruknya. Cerita berakhir dengan Tom yang bermain game itu lagi, mendengar suara di belakangnya, dan kemudian berbalik, dia menemukan... sebuah boneka Sonic.
Kemampuan Jake Pound untuk mengubah cerita ini menjadi sebuah film pendek yang sukses merupakan suatu keajaiban. Jake adalah seorang aktor yang cukup kompeten dan cukup normal untuk tidak menampilkan terlalu banyak emosi saat Tom bermain game. Suara yang Jake gunakan di film ini sangat efektif, bahkan jika dia terus memilih beberapa suara yang kurang sesuai seperti suara tertawa Kefka. Keputusan terbaiknya jelas karena mengubah akhir konyol dari versi asli cerita ini, sehingga penonton tidak dipaksa untuk menemukan boneka yang sedikit menakutkan itu.

~
7.2AM:The Smiling Man
https://youtu.be/_u6Tt3PqIfQ
~


~
Sebuah cerita asli dari Reddit, NoSleep, "The Smiling Man" telah menjadi urban legend yang tidak biasa. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, cerita yang sebenarnya merangkup tentang seorang pria yang sedang menyusuri jalan melihat seseorang melakukan tarian aneh dengan senyum lebar di wajahnya. Orang gila itu berlari menghampirinya dan menatapnya dengan cara ambigu yang mengancam. Penulis cerita ini, blue_tidals hanya menyatakan kalau "Dia tampak benar-benar gila," sehingga membuat cerita ini menjadi tidak jelas, apakah pria itu berada dalam bahaya atau tidak sama sekali.
~
6.Five Night at Freddy
https://youtu.be/t2AlEitlGh0
~


~
Game horror indie karya Scott Cawthon, Five Night At Freddy's menampilkan seorang petugas keamanan yang harus selalu memeriksa monitor dan pintu untuk menjaga dirinya agar tidak terbunuh oleh karakter animatronik di sekelilingnya. Meskipun para pengkritik menemukan cerita dibalik game ini sungguh berbelit-belit, desain karakter animatronik disini lebih menakutkan tanpa embel-embel make-up. Itu adalah kesuksesan besar memikirkan bagaimana game-game Cawthon sebelumnya merupakan game Kristiani kecil yang tidak terlalu menyenangkan. Diduga, permainan hit ini terinspirasi dari salah satu kritik dalam game yang dikembangkan sebelumnya, yang menyatakan bahwa karakter 3D yang dibuat Cawthon tampak seperti animatronik menyeramkan.
Jake Pound kembali membawakan film pendek lainnya dengan waktu tayang jauh lebih pendek daripada film sebelumnya, Sonic.exe. Film ini bercerita tentang seorang pria yang sedang bermain game, bukan petugas keamanan. Lebih banyak orang bermain game ini daripada dengan sengaja menjadi petugas keamanan. Gambaran Freddy Fazber yang bersinar di background sungguh sempurna, tampak terdistorsi namun sangat rinci. Sejak Pound menggunakan sedikit cuplikan permainan untuk tembakan akhir, bagian itu tidak terlihat realistis, namun masih dapat membuat siapapun ketakutan.
~
5.The Midnight Man Ritual
https://youtu.be/kMb0b7FupTg
~


~
The Midnight Man Ritual adalah Ritual yang dilakukan dalam kegelapan malam untuk memanggil makhluk yang berbentuk seperti manusia. Sang pemanggil harus bertahan dari upaya-upaya makhluk itu untuk menangkap dan menyiksanya sampai mati.
Langkah-langkah: Tulislah nama lengkapmu pada selembar kertas, teteskan setetes darahmu di atasnya, matikan lampu, letakkan selembar kertas itu di pintu depan, nyalakan sebuah lilin, dan kemudian buatlah lingkaran dari garam. Sekarang kau harus menghindari Midnight Man jika dia bermanifestasi di rumahmu dan tetap berada di luar lingkaran hingga pukul 3:33 pagi, pastikan agar lilin tidak padam lebih dari 10 detik.
~
4.The Girl In The Photograph
https://youtu.be/hxWCBC-6vUc
~


~
Ini adalah salah satu creepypasta yang aneh sekaligus lucu ketika masih berada dalam puncak kejayaannya. Seorang mahasiswa bernama Tom menemukan selembar foto gadis tercantik yang pernah dilihatnya, dan dia mengangkat dua jarinya, membentuk tanda perdamaian. Dia bertanya apakah ada yang tahu siapa orang yang ada di foto itu, namun hasilnya nihil. Malam itu, dia mendengar suara cekikikan dan ketukan di jendelanya, sehingga membuat dirinya keluar untuk menyelidiki. Tidak ada siapa-siapa disana. Malam berikutnya, hal itu terjadi lagi, dia membawa foto gadis itu keluar dan mulai mengikuti suara cekikikan itu. Sebuah mobil yang sedang melaju menabraknya. Si pengemudi mobil keluar dan melihat foto itu. Gadis di dalamnya sekarang mengangkat tiga jari
~
3.Stitches
https://youtu.be/-AzYhlcKrZc
~


~
Kisah ini mendahului seluruh konsep creepypasta, dengan Snopes yang mengklaim bahwa cerita ini muncul di tahun 2004. Seorang babysitter berada di satu rumah asing. Dia menyadari ada sesuatu yang aneh di rumah itu, seperti air yang dibiarkan mengalir. Juga ada patung atau manekin berukuran manusia, entah badut atau malaikat. Ketika menelepon pemilik rumah, dia bertanya tentang patung aneh itu. Pemilik rumah mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai patung atau apapun itu.
~
2.The Rake
https://youtu.be/e8lz-VWYMe0
~


~
The Rake diyakini telah ada di situs 4chan sejak tahun 2005 dan dikodifikasi di blog SomethingAwful.com oleh Bryan Somerville pada tahun 2006. The Rake merupakan monster kurus berpostur seperti manusia dengan cakar panjang yang menyelinap ke rumah-rumah penduduk dan melakukan berbagai hal pada mereka. Kadang dia melakukan kekerasan, dan kadang mematikan. Namun di lain waktu, dia hanya mengancam. Selama ratusan tahun, dia sudah muncul di seluruh dunia, beberapa kali terekam dalam video.
Sebelum kita melihat monster itu, The Rake sudah membunuh sesosok ayah. Sementara sebagian besar cerita berpusat pada anggota keluarga yang masih hidup dan berusaha untuk menghindari makhluk itu, adegan terakhir dibuat dengan sangat menakjubkan, tentang potongan bukti-bukti kemunculan makhluk itu sendiri. Foto-foto jelas dari para korban dan investigasi di lokasi kejadian sangat menyeramkan.
~
1.Slender Man
https://youtu.be/q2duevcUMGw
~


~
Slenderman masih menjadi karakter creepypasta terpopuler hingga kini. Dia juga merupakan salah satu dari beberapa tokoh horror yang diciptakan untuk menginspirasi kasus pembunuhan yang sebenarnya (belum berhasil, sejauh ini.) Di beberapa titik, pencipta Slenderman, Eric Knudsen niscaya akan mengizinkan dirilisnya iklan komersial atau produk-produk lainnya yang berhubungan dengan Slenderman. Sampai waktu itu tiba, kami memiliki beberapa video dan game untuk mengisi waktu kalian.
Banyak video-video bertebaran di YouTube, menceritakan Slenderman namun tanpa kejelasan dan dibuat dengan amatir, mungkin meniru gaya Marble Hornets, yang membuat Slenderman menjadi populer. Namun, Gearmark Pictures membuat video dengan arah yang berlawanan. Film pendek mereka, yang bercerita tentang Slenderman dibungkus secara apik dan profesional.
Mengkisahkan tentang seorang prajurit sekutu dari America Civil War berusaha untuk melindungi adik perempuannya, Emily, dari suatu makhluk misterius. Akting di film ini sangat baik, bahkan membuat Slenderman bukanlah bagian yang paling menakutkan. Bagian yang paling menakutkan adalah ketika penggambaran Daniela Leon sebagai Emily setelah dia berada di bawah pengaruh predator yang tidak diketahui asalnya.

Saturday, March 19, 2016

The Little Girl Part 5 [END]

Itu adalah bola mata! Bola mata yang kecil nan bundar itu, pastilah milik kucing. “A-apa.. Bola.. mata..” si ayah hanya bisa tertegun. “Hyeahahahahahaa!!” Suara tawa yang mencekam itu, suara itu terdengar familiar.. Ya! Itulah tawa dari si gadis kecil! Si ayah dan si adik kini hanya bisa berdoa dan bersembunyi di dalam lemari. Mereka menangis, menangis, MENANGIS TAK BERDAYA! Ya! Mereka menagis tanpa bisa melakukan apapun! Ini adalah kesempatan yang bagus bagi si gadis kecil yang bangkit dari penderitaannya! Yeah! Perlahan si gadis kecil membuat mereka ketakutan setengah mati! Ya! Dan… (sfx : Bruak!) “Hyaaaaaah!!” mereka berteriak bersamaan, “Ya! Ya!! Teruslah berteriak wahai kutu-kutu kecil!! Tak akan ada yag mempedulikan mu!! TIDAK ADAAAA!!! Ahahahahahaha!!” Tawa lepas dari si gadis yang amat merdu terlontar bebas dari mulut kecil manisnya.

“Ssssh.. Kalian tenang saja, aku akan membantu kalian mengakhiri semua penderitaan ini.. Yeah.. Ikutlah dengan ku.. Tenang saja, tadi aku Cuma berpura-pura senang, ayo kita pergi..” Ucap gadis kecil tenang. Tentu saja dengan mental selemah anak kucing mereka menuruti buaian manis itu. Mereka berhasil ke luar rumah, mereka mengikuti si gadis kecil ke sebuah pondok yang indah. “Terima kasih..” lirih si adik. “Sudahlah, kalian masuk duluan, ada yang harus aku ambil di sana” Ucap Si gadis kecil sambil menunjuk kearah kebun belakang. Saat mereka masuk, mata mereka terbelalak dengan pemandangan yang ada. Ya! Banyak daging manusia dan organ dalamnya bergantungan, dan bergeletak dimana-mana.

(sfx : krieeet…cklek..) “Apa yang-“ belum sempat selesai bicara si ayah di pukul dengan tongkat bisbol dari belakang, si adik yang menyadarinya berteriak histeris, “M-maafkan aku!! Maafkan akuu!! Aku-“ belum selesai ia berkata, kepalanya pun dipukul si Gadis kecil, “Kalian akan ke neraka.. Hehehe..” gumam si Gadis kecil.

”Ukh.. dimana aku..” gumam si ayah, “gyaah.. aku ingat.. ah kepalaku..”,“Hai pak tua, apa kau sudah sadar?”, suara itu, ya.. itu si Gadis kecil. “Ingat apa yang kau lakukan pada ku di hadapan pengikutku?”, Belum sempat si Ayah berkata-kata, si Gadis kecil mulai menyentuh bagian *ehem* si Ayah. “Apa yang..” Gumam si Ayah, “Yah.. Mungkin aku harus memulainya dari sini..” gumam si Gadis kecil, si Gadis kecil mengambil alat kejut listrik yang biasanya ada di rumah sakit, ia menyalakan alat itu dan menempelkannya pada *peep* pria itu.. (sfx : Bzzzzt) “Gyaaaaaaahhh!!! Tidak! Tidak! MAAFKAN AKUUU!!” teriak pria malang itu, “ Kau terlambat ayah ku.. Kau sudah begini takdirnya, jadi nikmatilah” bisik si Gadis kecil di telinga si Ayah. “Hoeeeek..” Ayah memuntahkan isi perutnya, “Hmm, selanjutnya..” gumam si Gadis kecil. “Tolong maafkan aku..” Lirih si Ayah. Si Gadis kecil tak mengacuhkannya, ia mengambil alat penghancur kulit kacang dan berjalan kearah si Ayah. “Selanjutnya.. Pemecah kuku dan jari.. hihihi..”, si Gadis kecil mulai menjepit jari-jari si Ayah satu persatu, terlihat kuku yang pecah, kuku yang di cabut paksa.. “Mana teriakan indah itu, Ayah?” Tanya si Gadis kecil. “A..akh..” lirihnya, “Hehe, aku harus kehilangan satu teriakan indah, ya sudahlah.. Karena ayah tak bisa bernyanyi lagi, maka aku akan mengakhiri penderitaan ayah” Si Gadis kecil mengambil golok besar yang tajam dan mengkilap dari belakang kursi yang mengikat ayahnya. “Daah ayah, sampai jumpa di neraka” (sfx : craaasssh!!) Darah mengalir dari leher si Ayah, keluar dan menyembur seperti air mancur. “oh ya, luka itu” si Gadis kecil mengambil gunting kecil dan menggunting mulut ayah hingga lebar ke arah bawah leher, ia juga memotong bibir ayah nya, potong1potong1 POTONG bibirnya hingga habis tak bersisa!! “Aaah.. sekarang tinggal si adik yang belum ku dengar teriakan indahnya” Si Gadis kecil berjalan kearah si Adik terikat, di kursi, kursi yang berhadapan dengan mayat si Ayah.

Si Gadis kecil mulai menyayat pipi Adiknya yang masih pingsan, dan keluarlah darah segar nan merah segar itu. “Garam.. Garam..” Gumam si Gadis kecil. Si Gadis kecil mengambil garam dan menaburkannya pada pipi si Adik, “Kyaaah!” Si Adikpun mulai tersadar akibat perih yang luar biasa itu. “Hello..” sapa sang Gadis kecil sambil menyeringai. “GYAAAAH!! GYAAH!! LEPASKAAAN!! LEPAAAS!!” Histeris si adik. “Hyeahahaha!! Aku suka teriakanmu!!” Si Gadis Kecil pun mulai menyiksa si Adik dengan berbagai cara, menaburi garam pada lukanya, memberinya kejut listrik, membolongi telapak tangannya, semakin lama, semakin keras teriakannya. Dan penyiksaan terakhir adalah mengulitinya dan membakarnya. Aroma daging gosong kini mulai tercium di dalam pondok itu, “ Yaaah, akhirnya mereka mati..” Gumam si Gadis kecil sambil melihat pondoknya terbakar oleh api yang besar. “Ayo semuanya.. Kita harus mencari pengurusku yang baru” Si Gadis kecil pun pergi bersama pengikutnya , yaitu para tetangga.
________________________________________________________________________

Namaku Milly Anderson, aku biasa di panggil Milly, umurku 12 tahun, aku sangat suka menyakiti orang-orang, karena aku ingin berbagai pengalaman yang baru, aku pun mulai tinggal di panti asuhan. Ah! Ada seorang Pria besar yang dating dan ingin membawaku! Akhirnya aku punya ‘penyalur hobi’ yang baru! Ternyata ia memiliki seorang anak yang bernama Derrie Yackie dia berumur 10 tahun! Aku bisa memanggilnya Adik colonthree emotikon , oh ya! Nama pria itu adalah Turnie Yackie. Aku mendapat perlakuan buruk disini, yaah, persetanlah.. Yang pasti aku akan bersenang-senang dengan mereka nantinya.

--END--

The Little Girl Part 4

Si adik duduk terpojok di sudut ruang tamu, dan betapa terkejutnya si ayah yang melihat keadaan ruang tamu. Lampu gantung yang jatuh berserakan, piring-piring yang seharusnya di dapur juga pecah berserakan, TV LCD yang bolong di tengahnya, Meja yang rubuh, sofa yang sobek karena benda tajam, dan… semua garpu dan pisau menancap membuat rangkaian kata “..Kau akan menerima balasannya..”, si ayah terkejut dan hanya bisa terpaku melihat itu. “Se-sebaiknya kita pindah sekara-“ belum sempat ayah selesai bicara, sebuah golok terbang ke arahnya. Dengan cepat ayah mengelak, tetapi tetap saja mengenai pipinya (sfx : Crash) darah mengalir dari pipinya. Ia menarik si adik ke kamar dan mengunci kamarnya, ia menahan rasa sakit yang teramat sakit karena pipinya yang robek, tak lama kemudian terjadi pemadaman listrik. Kini suasana sangat sunyi di rumah mereka. “H-hei.. mengapa rumah di sebelah tidak terjadi pemadaman juga?” Tanya si adik, “A-aku tidak tau!” omel ayah, “yang pasti kita aman di sini..” lanjut ayah.

(sfx : duk, duk, duk, duk..) “Apa itu!?” suasana panik pun terjadi. (sfx : duk, duk, duk..) “B-berhenti?” Tanya ayah, (sfx : cklek cklek …) “Aaaaaaah!” Si adik histeris, “Ssst! Aku sudah mengunci pintunya! Kita aman!”si ayah pun menenangkan si adik “HAH! KAU TAK AKAN BISA MASUK!! PINTUNYA SUDAH KU KUNCI DENGAN BAIK!!” teriak si ayah, nadanya yang menjengkelkanlah yang menjadi ciri khas si ayah.

Keadaan di kamar itu sangat mencekam, hanya di lindungi sinar bulan yang remang-remang ,mereka berdua pun terjaga.. (sfx : Ngeeng ngeeeeng) “suara itu! Suara gergaji mesin!” ayah yang semula santai saja, kini dilanda panik yang luar biasa. “Apa yang harus kita lakukan!?”Histeris dari adik mulai terdengar lagi. (sfx : Ngeeeeeng Dugrugrugruag) “P-pintunya di potong!! Bagaimana ini!? Aku tidak mau matiii!!!“ si adik.. pekikannya kencang sekali. “T-tolong! H-hey kau! Tolong kami!! Panggilkan polisi! Kumohooon!! Aku akan membayarmu!!” Ayah berteriak kepada tetangga sebelah yang sedari tadi memperhatikan rumah si ayah. “Terlambat tuan! Kau dan jalang kecil itu akan mati! Kami sudah resah dengan kelakuan mu! Kau tidak becus merawat ratu kami! Jadi terimalah konsukuensinya!! Ahahahahahaa!!” Si ayah hanya bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya sebentar lagi akan mati. Dan benar saja, pintu terbuka oleh gergaji mesin.. (sfx : Gludug gludug) “Kyaaaaaah!!” Si adik pun menangis sambil berteriak histeris. “Ada ap-!?” Omongan si ayah terhenti karena sesuatu.. itu adalah..

(to be continued)

The Little Girl Part 3

”Uh, apa ini? Sejak kapan ini disini?” Tanya si adik, “Apa? Jangan lihat aku, aku baru tau itu ada! Atau jangan-jangan…” Si ayah tak mau melanjutkan omongannya, “Apa? Jangan-jangan apa?” Tanya si adik penasaran. “Tidak, mungkin perasaanku saja…Sudahlah, mungkin tubuhnya di makan tikus atau semacamnya” Karang si ayah. “Kau pikir aku bodoh, mana ada hal seperti itu”, “Sudahlah aku lelah” tukas ayah
”Lagipula ia tak ada, kita bisa melakukan hal itu malam ini, ihihi…” Goda si adik, “Baiklah, kita bisa melakukannya malam ini sepuasnya” dialog-dialog mesum itu berlanjut, hingga tengah malam.. Kau heran? Mereka melakukan hubungan “oni chi chi” yang konyol itu, sungguh di luar pikiran squint emotikon *lanjuuut*

Malam itu mereka melakukan *iykwim* pacman emotikon
(sfx : Buagh! Dug! Dug! Duak! Sreeet.. Prang! Prang! Buagh!)
”Apa itu?” Tanya adik yang sedang berkeringat, “Ahh.. aku tidak tau.. Lanjutkan sajalah..” Goda ayah, “Fu*k! Kita harus mengeceknya!” Omel si adik. Mereka berdua pun memakai baju mereka kembali.. “Aku akan turun”, “Oke” balas ayah, si adik turun ke lantai 1. Tak lama si adik turun, terdengar teriakan si adik “Gyaaaaaaaaaah!!”, si ayah yang mendengar itu langsung turun ke lantai bawah, dan ia mendapati..

(To be continued)

The Little Girl Part 2

Si Gadis Kecil yang tak tahan akhirnya keceplosan dan berkata " Kau! Kau dan manusia Jahanam itu! Aku tau kalian bersekongkol! Kalian ingin membuatku mati perlahan! Kalian memang jahat! Kalian sekumpulan manusia brengsek!!" Sang ayah kaget, si adik yang dari tadi memperhatikan hal tersebut mulai merasa dihujat dan kesal. Para tetangga pun mulai berbisik-bisik, ada yang meneriaki macam-macam hujatan pada si ayah dan si adik. Dengan kesalnya si ayah menjambak rambut sang gadis ke dalam dapur, "kau memang harus enyah, dasar pembawa sial", si ayah menusuk si gadis kecil dengan pisau, si gadis sempat memberontak namun karena mulai kehabisan darah ia pun mulai melemah, sang ayah yang panik mulai ketakutan, ia berencana untuk membuang mayat si gadis kecil nanti malam bersama si adik. Ia menyeret tubuh si gadis kecil itu ke basement.

~malam tiba~
Seperti yang di rencanakan sang ayah turun ke basement dengan si adik, “kau bodoh sekali sih!” gerutu si adik. “Aku terlalu kesal, lagipula kita tak akan sial lagi” balas si ayah. Ketika mereka sampai di basement, mereka terkejut. Mengapa? Karena tubuh si gadis kecil menghilang. Sang ayah menyuruh si adik untuk membantunya mencari tubuh si gadis kecil. Namun yang ditemukan hanya jejak darah yang mirip jejak kaki mengarah ke lantai atas...

( To be continued)

The Little Girl Part 1

Ada seorang gadis kecil, ia tinggal bersama ayah dan adiknya. Keluarga tersebut bisa di sebut "broken home" sebab orang tuanya bercerai. Gadis kecil itu selalu di salahkan ayahnya apabila ada sebuah perabotan atau benda apapun yang rusak, terkadang ia menangis, ia hanya bisa menangis di kamarnya yang sempit itu.

Suatu hari, sang ayah mendapati ada keran yang bocor. Tentu saja ia menyalahkan si gadis kecil itu. Si gadis kecil berusaha membela dirinya, ia berkata "Bukan aku yah, terakhir kali ku lihat adiklah yang mandi terakhir, sumpah ayah itu bukan aku!", Si adik membela dirinya "Iya, memang! Tapi itu bukan salahku! Sebelum aku mandi itu 'kan kamu, dan aku melihat keran itu bocor setelah kamu mandi!!", "Tapi jelas-jelas aku tidak melihat keran itu bocor, ayah--" ucapan gadis itu terpotong sebab tatapan ayahnya dan adiknya yang licik seperti ingin menelannya.
"Sudah cukup! Kamu memang selalu merusak barang di rumah!Dasar pembawa sial! Kau harus di hukum" Teriak ayahnya. Tetangga di sekitar melihat kejadian itu. Si gadis kecil di jambak dan di tonjoki ayahnya, tetangga yang melihat itu semakin membanyak, si ayah tak mempedulikan hal itu, ia tetap menghukum gadis kecil itu hingga babak belur...

( to be continued )

Adikku Part 3

Aku berlari sekuat tenaga, kulihat keringat membasahi tubuhku. Yeah, aku menuju ketempat itu, tempat yang tak pernah kubayangkan akan kukunjungi saat malam hari.

"Huh...", dengusku kelelahan saat aku sampai. Bisa kulihat jejeran batu nisan didepanku, yeah itu adalah sebuah pemakaman yang cukup luas dan jauh dari keramaian, "Jika adikku benar ada disini, apa yang mungkin dia lakukan?" gumamku kebingungan. Kulihat pemakaman itu begitu gelap dan menakutkan, namun apa boleh buat aku benar-benar harus tau apa yang adikku lakukan sebenarnya.

Dengan hati-hati aku masuk kedalam pemakaman tersebut, dan mencoba menemukan adikku. Terdengar suara-suara riuh burung hantu dan mahkluk malam lainya saling bersahutan, mereka seperti menyambut kedatanganku. Cukup lama aku berkeliling, hingga aku menemukanya, yeah itu adalah adikku, aku benar-benar menemukanya disini. Aku mencoba bersembunyi dibalik sebuah batu nisan, dan dari kejauhan aku bisa melihat adikku tengah berdiri didepan sebuah makam. Yeah, aku tau makam itu, itu adalah makam seorang gadis yang meninggal 3 hari yang lalu. Adikku terlihat hanya berdiri terdiam didepan makam itu, entah apa yang akan dia lakukan. Lalu tiba-tiba adikku mulai bergerak, dia melakukan hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, dia...

*To be Continued*

Adikku Part 2

Aku beraktifitas seperti biasanya, agar adikku tak curiga kepadaku. Semua tampak normal, tak ada keanehan yang terjadi. Malampun tiba, aku hanya diam dikamar tanpa melakukan apapun, hanya menunggu adikku mulai bergerak.

Cukup lama aku menunggu, dan kulihat jam sudah menunjukkan pukul 00:15 tengah malam, semua masih tampak normal. 'Krek', suara pintu terbuka mengagetkanku yang setengah tidur, bisa kupastikan itu adalah suara pintu kamar adikku, dan kulihat jam menunjukkan pukul 01:35 dini hari. Dengan hati-hati aku menuju pintu kamarku, bersiap untuk mengikuti adikku.

'Duk... duk... duk...' dan 'krek', suara langkah kaki adikku kemudian membuka pintu depan rumah. Dengan sigap aku keluar dari kamarku dan membuntuti adikku. Dari balik cendela rumah, bisa kulihat adikku sedang berjalan menyusuri jalanan, dia memakai jaket dengan kerudung menutupi kepalanya.

Dengan hati-hati aku mengikutinya, kulihat adikku berjalan agak cepat, seperti sedang terburu-buru. Cukup lama aku mengikutinya, kemudian tibalah adikku di sebuah perempatan jalan, dari kejauhan dia terlihat sedang menengok kekiri dan kekanan, seperti mengawasi sekitar agar tak ada yang mengikutinya, sementara aku bersembunyi dibalik pohon besar.

Lalu tiba-tiba adikku seperti menghilang, atau lebih tepatnya dengan kecepatan tak normal, adikku berlari dan melompat begitu cepat hingga aku tak menyadarinya, langkahnya begitu jauh dan cepat hingga aku hanya bisa terdiam melihatnya. Aku benar-benar terkejut, dan sekarang aku kehilangan jejaknya.

Namun dari arah adikku berlari, aku berfikir suatu tempat yang mungkin dia datangi, meskipun aku tak mempercayainya, tempat itu adalah...

*To be Continued*

Adikku Part 1

Aku memiliki seorang adik, yeah mungkin seperti anak remaja lainnya, adikku yang kini mulai tumbuh dewasa mengalami banyak perubahan dalam hidupnya. Aku memang selama ini tak pernah memperhatikan adikku, namun melihat perilakunya sekarang yang menurutku mulai aneh, kini aku mulai lebih memperhatikanya.

Yeah, mungkin cuma perasaanku saja, namun kurasa ada yang benar-benar berbeda dari adikku kini. Setelah beberapa hari kuamati, ketika tengah malam bisa kulihat adikku diam-diam sering pergi keluar dari rumah. Dia selalu pergi sendiri kesuatu tempat entah kemana, tanpa memberi tau siapapun kemana perginya, hal itu membuatku penasaran.

Untuk itulah, malam ini aku berencana untuk membututinya kemana perginya. Karena aku benar-benar khawatir dengan apa yang terjadi dengan adikku sebenarnya...

*To be Continued*

Hitch-Hike Part 4 [END]

Apa yang sedang ia bicarakan? Jelas2 kami menumpang RV itu di luar tokonya. Aku bahkan melihat si ayah membeli perban dan lain-lain di toko ini dan membayarnya kepadanya!

Aku mulai merasa cemas. Aku dan Kazuya kembali bertatapan.

“Permisi,” kata Kazuya, “Saya perlu pergi ke toilet.”

Akupun mengikutinya dan kami segera menutup pintu di belakang kami.

“Aku tak mau berpikir bahwa ia membohongi kita, namun .... apa mungkin ia bekerja sama dengan mereka? Mungkin mereka berada dalam satu kelompok, atau sekte ... dan mereka semua berteman. Aku benar-benar tak mengerti.” Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan, “Well, yang pasti kita tak bisa tinggal di sini. Coba kita tanya sopir truk itu, mungkin ia bisa membawa kita ke suatu tempat.”

Itu sepertinya menjadi satu2nya pilihan yang kami punya. Ketika kami hendak meninggalkan kamar mandi, tiba-tiba kami mendengar sesuatu dari balik salah satu bilik.

Seseorang sedang menyiulkan nada Mickey Mouse’s March.

Mungkin karena hari itu masih siang, atau mungkin karena alasan lain, aku lebih merasa marah ketimbang takut. Kazuya tampaknya juga merasakan hal yang sama.

“Buka pintu sialan ini!” Kazuya menendang pintu itu hingga terbuka.

Di dalamnya, seorang pemuda berseragam sekolah tampak dengan ketakutan menatap kami. “A ... apa yang kalian inginkan?”

“Oh ... oh ... maaf!” Kazuya merasa salah tingkah. Untunglah tak ada siapapun di luar kamar mandi yang mendengar apa yang barusan kami lakukan. Setelah meminta maaf kepada anak itu, kami meninggalkan kamar mandi dan melihat sang pemilik toko sedang bercakap-cakap dengan sopir tersebut.

“Terima kasih atas bantuan anda, pak.” kata Kazuya dengan sopan pada sang pemilik toko. Kemudian ia beralih kepada sang sopir truk, “Hei, apakah kami bisa meminta tumpangan sampai ke kota? Kami berjanji itu akan setimpal dengan waktumu.” Ia lalu membeli sebungkus rokok yang sama seperti yang sopir itu miliki dan membayarnya. Sepertinya Kazuya adalah seorang negosiator yang handal, pikirku.

Tak ada satupun di antara kami yang hendak melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Semuanya terkesan sangat sureal – tak nyata – untuk dipercaya. Dan aku ingin melupakannya sesegera mungkin. Walaupun kuakui aku menyesal kehilangan tasku beserta seluruh bajuku di dalamnya.

Tanpa kami sadari, kami berdua terlelap di dalam truk. Ketika kami bangun, truk sedang berhenti dan sang sopir membelikan kami yakisoba (sejenis mie goreng). Kami menyantapnya di dalam truk.

Ketika truk mulai berjalan, Kazuya kembali tertidur. Aku sudah merasa tak begitu lelah sehingga aku hanya bersantai sambil bersandar di kursi. Aku menatap keluar, mencoba menyaksikan pemandangan sambil merenungkan kembali kejadian mengerikan yang baru saja kami alami. Siapa sebenarnya mereka? Dan tangisan gadis itu ...

“Ah!” tanpa sadar aku berteriak ketika aku menyadarinya.

“Ada apa?” tanya sang sopir truk.

“Kumohon, hentikan truknya!”

“Apa?”

“Maafkan saya, ini hanya akan makan waktu satu menit. Sebentar saja!”

“Kamu ingin turun di sini?” tanyanya sambil memelankan truk dan akhirnya berhenti. “Kota masih jauh, kau tahu?”

Kazuya terbangun ketika aku membuka pintu.

“Hei, apa yang terjadi?”

“Lihat itu!”

Aku menunjuknya, dan Kazuya langsung membisu ketika melihatnya juga.

Mobil RV itu terparkir di pinggir hutan.

Tak ada keraguan sedikitpun, itu mobil yang sama. Warnanya, bentuknya, semua sama. Bahkan ada palang merah yang dicoretkan di pintu RV itu. Namun ada sesuatu yang salah, benar-benar salah ....

RV itu tampak bobrok. Kelihatannya mobil itu teronggok begitu saja di sana selama puluhan tahun. Bodinya tampak peyot dan berlekuk di sana-sini. Warnanya mulai pudar dan tampak berkarat. Semua bannya rata dan jendelanya pun pecah. Bahkan tumbuhan merambat mulai menjalari tubuh mobil itu.

“Maafkan kami, namun bisakah anda menunggu kami selama beberapa menit? Kami harus memeriksanya. Sebentar saja ya?” aku memohon dan akhirnya ia setuju. Kazuya dan aku segera turun dan menghampiri RV itu.

“Apa-apaan ini?” sebelum aku sempat mengatakannya, Kazuya sudah mengucapkannya duluan. Ketika kami semakin dekat dengan mobil itu, semakin kami yakin itu RV yang sama.

Hari masih siang dan ada beberapa mobil yang lalu lalang, dan itu memberikan kami keberanian untuk mendekatinya.

Ini sama sekali mustahil, pikirku. Aku mencoba membuka pintu RV itu dan segera bau busuk menyeruak keluar dari dalamnya.

“Hei! Hei! Lihat ini! Aku benar-benar tak percaya!” seruku ketika melihat sesuatu teronggok di kursi belakang, “Tas kita! Barang2 kita semua ada di sini!”

Namun tas kami dan semua isinya ... sama seperti mobil itu, terlihat seperti sudah berumur puluhan tahun! Pakaian yang kami tinggalkan, seakan semua telah membusuk.

“What the hell ...” pekik Kazuya. Kami tak bisa mencari penjelasan logis dari semua ini. Yang kuinginkan hanya segera keluar dari mobil terkutuk ini.

“Ayo cepat pergi dari iini!” serunya. Kurasa ia sama ketakutannya dengan aku saat ini. Saat kami hendak meninggalkan mobil itu, tiba-tiba ... BANG! Terdengar suara dari pintu di belakang. Di toilet RV itu, ada yang memukul bagian dalamnya.

Aku segera menoleh. Pintunya masih tertutup rapat. Aku sama sekali tak memiliki keberanian untuk membukanya.

Kami mulai ketakutan. Apa kami benar-benar mendengarnya? Tak ada satupun di antara kami yang benar-benar yakin. Mungkin memang ada sesuatu di dalam situ, tupai atau hewan liar lain.

Namun yang kudengar berikutnya, aku sangat yakin itu bukanlah tupai.

“MAAAAAAAA!”

Kami segera berlari kembali ke truk secepat mungkin sambil berteriak seperti orang gila. Kami berdua segera masuk dan aku segera menyadari, entah karena alasan apa, sang sopir truk itu juga terlihat gemetar. Tanpa mengatakan sepatah katapun, ia segera menyalakan truk dan meluncur pergi.

“Apa yang terjadi?” aku lebih penasaran dengan ekspresi sang sopir truk yang tiba2 saja tampak ketakutan seperti kami.

“Oh, tidak ada apa2.” Ia meraih rokoknya dan mulai menghisapnya. Ia tampak gugup. “Kupikir aku hanya salah lihat tadi ... Semuanya baik2 saja kok.”

“Kami perlu tahu apa yang anda lihat barusan!” Kazuya memohon, “Ceritakanlah, please!”

“Well, kupikir aku melihat seseorang tadi.” katanya dengan gugup, “Ia berada di balik pepohonan, memperhatikan kalian saat kalian berdua sedang mengecek keadaan mobil itu. Dia hanya ... dia hanya diam berdiri di sana dan menatap kalian, mengawasi kalian. Benar-benar membuatku merinding.”

“Apa dia memakai topi ... semacam topi koboi?”

Sopir itu menoleh kepadaku dengan ketakutan, “Ba ... bagaimana kalian tahu? Apa kalian juga melihatnya?”

Kami bertiga terdiam selama sekitar setengah jam. Ketika kami semakin dekat dengan kota yang kami tuju, rasa penasaranku akhirnya tak terbendung lagi. Masih ada sesuatu lagi yang harus kutanyakan pada sopir ini.

“Ehm ... di dekat tempat dimana anda mengangkut kami tadi, ada pegunungan di dekat sana bukan?”

“Hmmm ... ya benar. Ada apa memangnya?”

“Apa pernah terjadi sesuatu di sana?”

“Hmm ... coba aku ingat2. Oh, pernah ada seorang wanita yang terbunuh di sana. Apakah hal seperti itu yang kau maksudkan? Sebab selain kejadian itu, tak ada peristiwa lain yang mencolok pernah terjadi di sana.”

“Seorang wanita terbunuh? Apa ... apa kejadiannya berlangsung di dalam kamar mandi?”

“Yah, kurasa begitu seingatku.” Sopir itu memandang kami sejenak sebelum akhirnya kembali memperhatikan jalan, “Dari mana kalian tahu?”

Kami tak memiliki penjelasan logis mengenai hal itu, jadi kami memutuskan untuk tidak menjawabnya.

Ketika akhirnya kami tiba di kota, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada sang sopir. Kami menginap malam itu di sebuah HOTEL dan keesokan harinya, kami langsung pulang menggunakan kereta shinkansen.

Aku mencoba tak memikirkan kembali apa yang terjadi terhadap kami, namun kadang kala aku hanya tak bisa melupakannya. Siapa orang-orang itu? Apa mereka benar-benar ada? Atau mereka hanyalah ilusi semata? Apakah mereka berasal dari dunia ini? Dan suara tangisan yang kami dengar di kamar mandi – suara siapa itu? Dan semua hal mengenai RV yang terbengkalai itu dan tas kami yang menjadi usang seakan sudah berumur puluhan tahun – apa arti semua itu?

Sudah 7 tahun semenjak kejadian itu, namun kurasa siapapun takkan bisa melupakan peristiwa setraumatis itu.

Kazuya berubah semenjak pengalaman kami hitch-hiking. Ia tak lagi menjadi playboy dan mulai serius menata hidupnya.

Sedangkan aku, seringkali aku masih bermimpi buruk tiap malam. Bermimpi tentang keluarga aneh dan RV itu. Bermimpi mendengar suara siulan Mickey Mouse’s March itu.

Dan kadangkala walaupun aku sudah terbangun, aku masih bisa mendengarnya.

TAMAT...

Hitch-Hike Part 3

Aku mulai panik, namun kemudian aku mendengar suaranya di belakangku.

“Kamu sudah bangun?”

Aku menoleh dengan lega, “Darimana kau?”

“Apa kau tak mendengarnya?” ia memegang sebuah batang kayu yang besar, seakan ia bersiap untuk menyerang seseorang.

“Apa yang kau ...”

“Ssssst!”

Aku terdiam dan memfokuskan telingaku. Ia benar, aku bisa mendengar sesuatu dari kejauhan, suara siulan. Mickey Mouse’s March. Suaranya sungguh jernih dan indah.

Namun yang kami rasakan saat mendengarnya hanyalah rasa takut.

“Itu ...”

“Orang itu ...”

“Ia mencari kita!”

Sekali lagi kami berlari di dalam hutan. Hari mulai terang sehingga kami bisa melihat jauh lebih baik.

Kemungkinan kami tersandung berkali-kali seperti tadi malam berkurang drastis dan kecepatan kami bertambah. Kami pasti sudah berlari selama 20 menit ketika aku melihat sebuah lapangan kecil. Lapangan itu terlihat seperti tempat parkir. Akhirnya aku melihat sebuah kota di kejauhan, jauh di balik pepohonan. Kami benar-benar berlari cukup jauh tadi malam.

Kazuya mengatakan bahwa perutnya sakit dan ia perlu menggunakan kamar mandi yang berada tepat di samping tempat parkir itu. Aku ingin pergi ke sana juga, namun karena pria berpisau besar itu bisa muncul kapanpun, aku tak mau terjebak di dalam sebuah bilik sempit ketika hal itu terjadi.

Ketika Kazuya berada di dalam kamar mandi, aku berjaga-jaga di luar.

“Ah brengsek! Kamar mandi ini kotor sekali. Ada banyak nyamuk dan ah ... benda-benda berjejal di dalam sini. Tapi ini lebih baik daripada nggak ada.” Kazuya tetap saja bermulut besar dalam kondisi genting seperti ini.

“Eh, ada seseorang menangis?” seru Kazuya dari dalam kamar mandi.

“Apa?”

“Kupikir aku mendengar seseorang menangis di kamar mandi wanita. Apa kau melihat ada seorang gadis menangis di sana?”

Aku juga mulai mendengarnya, suara isakan pelan seorang gadis dari dalam kamar mandi perempuan. Kami berdua terdiam sejenak. Apa ada wanita di dalam kamar mandi itu? Mengapa ia menangis?

“Hei, coba cek keadaannya.” kata Kazuya, masih di dalam biliknya, “Tangisannya bertambah keras.”

Sejujurnya, aku merasa takut. Namun jika seseorang menangis di kamar mandi di tengah antah berantah, bisa saja sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku memberanikan diriku untuk mengetuk pintu kamar mandi perempuan. Aku masih bisa mendengar suara tangisan gadis itu dari balik pintu.

“Maaf, apa anda baik-baik saja?”

Tak ada jawaban. Ia masih saja menangis.

“Apa anda sakit? Maaf menganggu anda, apa saya bisa membantu anda?”

Namun suara tangisannya justru semakin menjadi-jadi dan gadis itu tetap tak menjawab.

Kemudian saat itulah aku mendengar suara mobil di areal parkir di luar mobil.

Aku merasa ketakutan dan segera berlari ke kamar mandi laki-laki dan mengetuk pintu bilik dimana Kazuya berada.

“Cepat keluar!”

“Ada apa?”

“Aku mendengar suara mobil. Itu mungkin mereka! Cepat segeralah keluar!”

“O ... oke!” aku mendengar Kazuya menutup resletingnya dan keluar dari bilik kamar mandi. Aku bisa melihat RV itu melaju mendekat dari pintu kamar mandi yang separuh terbuka. “Oh, ini tidak bagus ....”

“Jika kita berlari keluar, jelas mereka akan melihat kita. Satu-satunya cara adalah bersembunyi di dalam kamar mandi ini!” Aku berhenti memikirkan gadis yang tengah menangis itu dan menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kumohon, kumohon jangan berhenti di sini! Terus saja! Terus ....

“Hei ... apa mereka melihat kita?” Kazuya berbisik. Harapan kami sirna. Kami mendengar suara moobil diparkir di depan kami. Kami mendengar suara mesin mobil dimatikan, kemudian suara pintu mobil terbuka dan menutup, diikuti suara langkah kaki mendekati kamar mandi.

Aku dan Kazuya memutuskan kembali masuk ke bilik. Di belakang kami ada sebuah jendela dan di luarnya adalah tebing setinggi 5 meter. Selama tak ada yang mengetahui kami besembunyi di sini, kami akan baik-baik saja. Namun jika ada yang memergoki kami, kami akan melompat. Cukup tinggi memang, namun kurasa kami takkan terluka parah jika melompat di ketinggian seperti itu.

“Kumohon jangan masuk ke sini! Pergi saja!” aku terus berdoa.

Gadis itu masih tak berhenti menangis. Apakah keluarga itu juga akan melakukan sesuatu terhadapnya? Aku sangat mengkhawatirkan hal itu.

Seseorang masuk ke dalam kamar mandi laki-laki. Kami hanya bisa mendengar suara langkah kakinya dari balik pintu bilik yang tertutup.

Kemudian terdengar suara kucuran air. Ia tengah buang air kecil.

“Ah, rasanya enak sekali. Haleluya!”

Terdengar kembali suara langkah kaki berderap, aku menduga itu adalah si kembar.

Gadis itu pasti sudah ditemukan, sebab aku mendengar suara si ibu dari dalam kamar mandi perempuan, “Di sini tidak ada tisu toilet!”

Gadis itu masih terisak ketika para laki-laki meninggalkan kamar mandi.

Aneh.

Keluarga itu sama sekali tak bereaksi pada suara tangisan gadis itu. Ketika sang ibu akhirnya pergi, aku mendengar suara mereka ikut menjauh.

Tidak mungkin mereka tak menyadari keberadaan gadis itu. Ia masih menangis di sana!

Kazuya dan aku saling bertatapan. Bingung. Dan kemudian kami mendengar suara sang ayah dari luar.

“Kita harus menunggu dia dulu .... dia akan datang ...” katanya. Namun kami tak bisa menebak siapa atau apa yang tengah ia tunggu.

Si kembar terdengar mengkhawatirkan sesuatu. Sejenak kemudian, terdengar suara tamparan keras diikuti suara tangisan si kembar.

Perjalanan kami telah berubah menjadi mimpi buruk. Kami hanya ingin bersenang-senang. Bagaimana mungkin perjalanan kami menjadi mengerikan seperti ini?

Hingga detik itu, kami masih merasa ketakutan. Namun pada suatu titik, hati kami tiba-tiba dibanjiri dengan kemarahan.

“Kita bisa mengambil RV mereka dan pergi!” Kazuya berbisik, “Kita tinggal memukul orang tua itu dan si kembar itu juga tampaknya tak terlalu sulit untuk diatasi. Jika kita mau melakukannya, kita harus melakukannya sekarang. Si pria tinggi itu tampaknya tak sedang bersama mereka.”

Namun aku tak begitu yakin dengan rencana Kazuya. Walaupun ide itu terdengar bagus, namun aku pikir lebih aman bersembunyi di sini jikalau mereka benar-benar tak menyadari kehadiran kami. Biarkan saja mereka pergi dan mencari kita di tempat lain.

Belum lagi, gadis itu masih ada di dalam kamar mandi. Begitu keluarga aneh itu pergi, aku ingin mengecek keadaannya, apakah ia baik-baik saja atau tidak. Aku mengatakan hal ini pada Kazuya dan ia dengan enggan menyetujui rencanaku.

“Oh, dia sudah datang!” aku mendengar seruan sang ibu. Nampaknya orang yang selama ini dinanti keluarga itu akhirnya tiba. Aku mendengar suara percakapan kecil namun tak bisa mengira-ngira apa yang sedang mereka bicarakan. Langkah kaki kembali terdengar menuju ke kamar mandi.

Mickey Mouse’s March. Siulan itu. Tentu saja, jelas sekali orang itu yang mereka tuggu. Pria tinggi besar itu sambil bersiul gembira menggunakan urinal. Suara tangisan gadis itu menjadi semakin keras. Mengapa? Mengapa keluarga itu tidak memperhatikan keberadaan gadis itu?

Akhirnya suara ratapan itu berakhir dengan jeritan ketika akhirnya tak terdengar lagi.

Apa mereka melakukan sesuatu terhadapnya? Apa mereka menemukannya? Namun bagaimana? Pria besar itu ada di dalam kamar mandi pria. Aku dan Kazuya juga tak mendengar seseorang memasuki kamar mandi wanita.

Suara siulan dan langkah kaki pria itu terdengar semakin menjauh ketika ia meninggalkan kamar mandi. Aku mulai khawatir jika ia pergi ke sebelah dan menarik gadis itu kelar, sehingga aku menengok keluar melalui jendela untuk melihat apa yang terjadi. Aku melihat pria tinggi itu masih menggunakan topi koboinya dan bersiul.

“NAH, DISANA KAU RUPANYA!!!!”

Pria tinggi itu berseru dan aku segera menarik kepalaku masuk kembali. Apa dia melihatku? Kazuya masih memegang batang kayu yang ia temukan di hutan pagi ini (yang selalu ia bawa serta sejak itu), bersiap-siap untuk memukulkannya.

“Ya benar! Ya benar!” suara sang ibu terdengar gembira.

“Itu benar-benar dosa yang sangat berat!” seru sang ayah diikuti suara tawa si kembar.

“Apa kau mendengar mereka menangis?” sang pria bertubuh tinggi bertanya. Ia terdengar sangat puas dan bangga dengan dirinya sendiri.

“Yap! Yap!” jawab si ibu.

“Menangis seperti bayi. Itu adalah penebusan. Haleluya!” kata sang ayah kembali, lagi2 diikuti tawa si kembar.

Aku sama sekali tak mengerti apa yang mereka bicarakan, namun sepertinya mereka tak sedang membicarakanku dan Kazuya. Akhirnya terdengar suara mesin mobil menyala dan mereka tampaknya meninggalkan lapangan parkir.

Hari sudah pagi dan cahaya matahari bersinar sangat terang. Tak ada yang perlu kami takutkan. Mereka sudah pergi, benar-benar pergi. Aku sudah memastikannya. Kini giliranku untuk memeriksa keadaan gadis itu.

Namun ketika aku masuk, semua pintu bilik kamar mandi dalam keadaan terbuka dan tak ada siapapun di sana.

Apa-apaan ini?

Kazuya masuk dan menepuk bahuku, “Hei, apakah kau tidak menyadari sesuatu yang aneh?” bisiknya, “Kupikir sejak awal memang tak ada siapapun di sini.”

Apakah itu semua hanya halusinasi? Namun bagaimana mungkin kami berdua sama-sama bisa mendengarnya bila itu semua hanya imajinasi?

Jalan yang berada di depan lapangan parkir tersebut pada akhirnya akan membawa kami ke jalan yang lebih besar, bahkan sebuah kota. Namun kami tahu jika kami menyusuri jalan ini, besar kemungkinannya kami akan bertemu kembali dengan mereka. Kami akhirnya memutuskan untuk memotong jalan melalui hutan. Kami bisa melihat kota dengan jelas dari tempat dimana kami berdiri, kelihatannya tidak begitu jauh. Selain itu matahari bersinar sangat terang jadi kami sama sekali tidak takut akan tersasar lagi.

Kami berdua hanya membisu ketika menyusuri hutan. Dua jam kemudian, kami menemukan sebuah jalan raya yang besar, sepertinya itu jalan antarpropinsi. Kami tak membawa baju ganti ataupun barang lain. Kepada siapa kami meminta bantuan? Entah mengapa, pemilik toko kelontong yang kemarin menawarkan bantuannya adalah satu2nya yang terlintas di benak kami.

Kami menanti di jalan tersebut dan akhirnya kami mendapatkan tumpangan dari sebuah truk. Sopir truk itu agak kaget dan curiga melihat tubuh kami begitu kotor dan kami muncul begitu saja dari tengah hutan. Namun setelah kami menjelaskan apa yang telah terjadi, ia dengan cepat membiarkan kami menumpang.

Tentu saja kami tak mengatakan yang sesungguhnya (bahwa kami dikejar oleh keluarga yang kemungkinan kanibal), namun hanya menjelaskan bahwa kami berkemah di gunung dan tersesat ketika sedang hiking. Kami meminta untuk diturunkan di sebuah toko kelontong dimana kami berada tadi malam. Sopir truk itu tak hanya mengatakan ia tahu dimana toko itu, namun ia juga sering berbelanja di sana juga.

Setelah sejam, kami akhirnya tiba di toko yang dimaksud. Pemilik toko tahu kami pergi bersama keluarga dengan RV itu, jadi kami menceritakan kepadanya semua yang kami alami. Namun di tengah cerita, ia mulai melihat kami dengan tajam, seolah ia tak mempercayai tiap kata yang keluar dari mulut kami.

“Apa? Kalian masuk ke dalam RV? Tidak, itu tak mungkin! Kemarin malam, kalian berdua keluar dari toko ini dan mulai berjalan di sepanjang jalan besar. Aku mencoba menghentikan kalian bahkan sempat mengikuti kalian beberapa saat, namun kalian sama sekali tak mengindahkan panggilanku. Aku pikir mungkin kalian merasa tak enak dengan tawaranku untuk mengantar kalian, namun aku justru merasa lebih buruk ketika melihat kalian pergi begitu saja seperti tadi malam. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?”

BERSAMBUNG...

Hitch-Hike Part 2

Mobil RV itu membuka dan seorang pria, kelihatan seperti berumur 60-an, beranjak keluar dan berjalan memasuki toko kelontong. Ia mengenakan topi dengan tepi lebar seperti topi koboi. Benar2 kelihatan aneh dan eksentrik.

Pada waktu itu, aku berada di dalam toko. Aku tak bisa berhenti memandangi pria berpenampilan aneh itu. Ia mengambil sebuah keranjang belanjaan dan mulai memasukkan perban dalam jumlah banyak dan perlengkapan medis lainnya. Ia juga membeli sebotol soda 1,5 L.

Ketika ia hendak membayar di kasir, mata kami bertemu. Ia akhirnya sadar bahwa semenjak tadi aku terus memperhatikannya. Akupun segera mengalihkan pandangan, berpura-pura membaca majalah yang dipajang di dekatku. Aku mulai merasa tak nyaman, namun aku terus mencoba sebaik mungkin untuk tidak mempedulikannya.

Akhirnya, pria aneh itu meninggalkan toko. Saatnya aku dan Kazuya berganti giliran. Namun saat aku berjalan keluar, aku memperhatikan Kazuya dan pria itu bercakap-cakap.

“Hei! Dia akan mengantar kita!” serunya.

Sial! Kesan pertamaku terhadap pria itu amatlah buruk, namun apa boleh buat. Kami tak punya pilihan lain. Mungkin saja dia hanyalah pria tua yang normal dan sebenarnya baik, aku mencoba menenangkan diriku.

Aku berjalan sambil menggumam kesal, namun aku sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan Kazuya.

“Tenang!” Kazuya menepuk bahuku. “Ia adalah tipe orang yang suka aktivitas di alam bebas. Makanya ia mengenakan topi itu.”

Setelah aku masuk ke dalam RV itu, barulah aku memaki dalam hati, “Sial! Ini aneh! Benar-benar aneh!”.

Aku tak tahu mengapa, namun orang ini benar2 aneh! Dan aku tak mau satu mobil dengan mereka!

Aku tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, namun aku hanya merasa semua ini sangatlah ganjil. Mungkin itulah yang disebut dengan insting. Kau tak bisa menjelaskannya, kau hanya tahu.

Di dalam van ini ada satu keluarga. Seharusnya aku sudah menduga bahwa tak mungkin seseorang mengendarai mobil sebesar ini sendirian. Dan keluarga ini, sama seperti ayahnya, juga terlihat aneh.

Sang ayah yang merangkap sopir, berumur sekitar 60-an. Aku sudah menyinggungnya tadi.

Sang ibu, duduk di sampingnya, berumur lebih tua, mungkin 70-an.

Anak kembar mereka, mungkin berumur 40-an.

Ketika seseorang berada dalam situasi yang tak ia inginkan, mungkin indranya akan bereaksi lebih cepat.

Itulah yang aku rasakan. Orang biasa mungkin tak menyadarinya, namun aku memperhatikan, semua jenis baju dan aksesori yang mereka kenakan sama. Baju, celana, sepatu, bahkan gaya rambut mereka. Mereka semua juga duduk dengan postur tubuh yang sama, bahkan dengan ekspresi wajah yang sama.

Kazuya juga speechless, sama seperti aku. Pokoknya kalian takkan mengerti betapa anehnya situasi ini kecuali kalian mengalaminya sendiri.

“Silakan masuk, kita akan segera berangkat.” kata sang ayah. Kami melakukan apa yang ia katakan karena menyadari kami sudah telanjur terjun dalam situasi ini.

Pertama kami mengucapkan “Halo” dan menceritakan sedikit tentang diri kami.

Karena sang ibu duduk menghadap ke depan, aku tak menyadarinya saat pertama kali masuk. Namun ia berdandan dengan sangat aneh. Wajahnya tertutup bedak putih yang amat tebal. Untuk menambah aneh situasi tersebut, ia mengatakan bahwa namanya adalah Saint Josefine.

Dan nama ayahnya adalah Saint George.

Nama kedua anak mereka lebih ganjil lagi. Mereka adalah Red dan Blue. Salah satu dari mereka memiliki wajah kemerah-merahan; ia adalah Red. Sedangkan yang satunya memiliki tanda lahir berwarna biru di pipinya; ia adalah Blue.

Apakah normal memberi nama anak kalian seperti itu?

Kami mencoba mengabaikan perilaku aneh keluarga ini dan mencoba mencari tempat dimana mereka bisa menurunkan kami sesegera mungkin.

Mereka gila. Mereka pasti gila.

Situasi menjadi cukup canggung bagi kami. Mereka kadangkala menanyakan sesuatu dan kami menjawabnya seperlunya. Si anak kembar tak mengucapkan sepatah katapun. Mereka meneguk air soda dari botol kola dengan gerak tubuh yang sama, berirama. Mereka bahkan bersendawa secara bersamaan. Hal ini membuat bulu kudukku berdiri. Aku sudah tak tahan lagi! Aku harus keluar dari sini!

Tanpa aku duga, lima belas menit semenjak kami masuk, Kazuya berbicara dengan sopan, “Terima kasih atas tumpangannya, namun anda bisa menurunkan kami di sini.”

Namun sang ayah tak mengizinkan kami turun. Sang ibu mulai berteriak, “Jangan sekarang! Beruang akan memakan kalian!”

Namun kami terus bersikeras untuk diturunkan saja.

“Paling tidak ikutlah makan malam dengan kami.” kata sang ayah. Ia tampaknya tak memiliki keinginan untuk melepaskan kami.

Kemudian si kembar mengeluarkan kembang gula dari kantung mereka bersama-sama dan mulai menjilatinya, dengan gerakan lidah yang sama persis satu sama lain.

Ini sudah cukup!

“Kita benar-benar dalam masalah besar!” bisik Kazuya. Aku mengangguk pelan. Sang ayah dan ibu terus-menerus melancarkan pertanyaan kepada kami begitu cepat, sehingga kami kewalahan untuk menjawabnya.

“APA KALIAN MENDENGARKU?” ia berteriak sekali ketika kami tak bisa menjawab pertanyaannya. Si kembar terkikik. Aku dan Kazuya bertukar pandangan. Kami sama-sama ketakutan.

Mobil RV itu keluar dari jalur jalan raya dan masuk ke sebuah jalan pedesaan yang berbatu-batu.

“Maafkan kami,” ucap Kazuya kembali sambiil mencondongkan tubuhnya ke arah sang pengemudi, “Namun kami benar-benar harus turun di sini. Terima kasih.”

“Namun kami akan menyiapkan makan malam.” jawab sang ayah. Ia mengatakan bahwa istrinya akan membuat masakan yang sangat lezat dan kami harus mencobanya.

Kami terdiam kembali. Jika kami memiliki kesempatan, kami akan lari. Tentu saja sangat berbahaya untuk melompat dari atas RV yang tengah berjalan, maka kami akan menunggu hingga mobil ini berhenti.

Setelah berkendara di jalan jelek itu selama 30 menit, akhirnya kami tiba di sebuah tanah lapang di dekat sungai kecil.

“Nah, kita sudah tiba!” seru sang ayah dengan nada gembira.

“Horeee horeee ...” terdengar suara kekanak-kanakan dari balik pintu (aku berasumsi itu adalah toilet) di bagian belakang mobil.

Ya Tuhan, masih ada satu lagi? Jantungku serasa mau copot.

“Mamoru juga sudah lapar, kan?” kata sang ibu. Mamoru? Hanya satu anggota keluarga ini yang memiliki nama yang normal. Dari suaranya, ia pasti masih kecil.

Si kembar, yang sejak tadi tak mengeluarkan sepatah katapun, mulai menangis dengan bersamaan, “Jangaaaaaan .... kalian tak bisa membiarkan Mamoru keluar!”

“Iya, itu benar. Karena Mamoru lemah.” kata sang ibu.

“Ahahaha!” sang ayah tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

“Sial, mereka semua gila! GILA!” Kazuya berbisik di telingaku.

Kamipun keluar dan mendapati seorang pria telah membuat api unggun di tepi sungai. Oh tidak, masih ada satu orang, seperti ini belum cukup buruk saja. Aku mulai merasa sangat putus asa.

Orang terakhir itu tampak sangat tinggi, ia pasti memiliki tinggi badan sekitar 2 meter! Ia memakai topi dan baju yang sama seperti yang dikenakan sang ayah. Topinya agak tertarik ke bawah sehingga kami tak bisa melihat wajahnya.

Melalui cahaya api unggun, aku bisa melihat sebuah palang merah tercoreng di depan RV yang tadi kami tumpangi. Ada sesuatu yang benar-benar menakutkan dengan semua situasi ini.

Orang bertubuh tinggi itu mulai memotong sesuatu menggunakan pisau besar sambil menyiulkan “Mickey Mouse’s March”*. Melihat rambut yang begitu lebat di sesuatu yang ia potong itu, aku berasumsi itu adalah kaki seekor binatang yang besar. Kemungkinan babi liar atau bahkan seekor anjing. Aku tak tahu apa itu, namun yang jelas aku tak mau memakannya. Semula kami berencana kabur secepat mungkin begitu kaki kami menginjak tanah, namun melihat pria dengan pisau besar itu, nyaliku menjadi ciut.

“Nah, ayo silakan duduk!” perintah sang ayah. Sang pria tinggi kemudian duduk dan mulai memasukkan bumbu2 ke dalam sebuah kuali besar berisi air mendidih.

“Ehm ... aku perlu buang air kecil sebentar.” kata Kazuya.

“Tentu saja, ide yang bagus Kazuya!” aku bersorak dalam hati. Aku akan segera mengikutinya memasuki hutan.

“Jangan lama-lama!” teriak sang ibu dari belakang kami. Tepat begitu kami berbalik hendak memasuki hutan, aku sempat menoleh ke arah RV itu dan melihat sebuah dahi muncul tiba-tiba di kaca jendela. Posisi mata anak itu jauh lebih rendah daripada orang normal dan ia mulai memukuli kaca jendela.

BANG! BANG!

Ia lalu menekankan wajah dan tangannya ke kaca dan berteriak, “MAAAAAAAAA!”

Aku sudah tak bisa lagi menanggungnya! Kami segera berlari tunggang langgang masuk ke dalam hutan secepat kami bisa.

Di belakang kami, aku mendengar sang ayah dan ibu meneriakkan sesuatu, namun aku dan Kazuya tak punya waktu dan tenaga untuk memperhatikan apa yang mereka teriakkan.

“Sial! Sial! Sial!” Kazuya memaki sepanjang perjalanan, setiap kami melewati pohon demi pohon. Kami berdua jatuh terjerembap ke tanah tak terhitung banyaknya, namun kami kembali bangkit dan berlari secepat mungkin.

Aku memegang sebuah senter kecil di salah satu tanganku ketika kami berlari menuruni gunung, mencoba setengah mati untuk menemukan jalan besar dimana kami bisa meminta bantuan.

Pikiranku mulai mempermainkanku. Kukira tadi aku melihat cahaya dari kejauhan, mungkin sebuah rumah atau lebih baik lagi, sebuah desa. Namun setelah lari berjam-jam ke arah cahaya itu, kami tidak lagi melihatnya. Kami benar-benar tersesat.

Kami berdua sangat lelah dan kaki kami mulai kesakitan. Kami akhirnya ambruk terkulai ke tanah.

“Apa kau pikir keluarga Manson** tadi mengejar kita?”

“Mereka tidak akan memakan kita!” aku mencoba menenangkan kami berdua. “Mereka takkan mengejar kita. Ini bukan film slasher. Mereka hanya keluarga yang aneh, bukan?”

“Bagaimana dengan barang-barang kita? Kita meninggalkan tas kita di RV itu.”

“Well, aku membawa dompet dan handphone bersamaku. Kurasa yang hilang hanya baju-bajuku saja.”

“Aku benar-benar mengacaukannya ya?” Kazuya terengah-engah.

Aku tertawa, “Haha. Ini bukan salahmu.”

Aku pikir kelelahan kami sudah tak lagi secara fisik, namun juga mental kami. Keanehan yang menimpa kami benar2 menguras seluruh energi kami dan begitu kami lolos, kami mulai menyadari bahwa apa yang kami alami sebenarnya sangatlah lucu. Setelah kami puas menertawakan nasib kami, kegelapan pekat dan aroma hutan membuat kami kembali tersadar.

Realitanya, kami tersesat.

Kami memang berhasil kabur dari keluarga aneh itu, namun kami menghadapi masalah baru. Kami berada terlalu jauh ke dalam hutan dan kehilangan arah.

“Bukankah lebih baik jika kita menunggu di sini hingga pagi? Aku tak mau membenarkan perkataan si mama Manson tadi, tapi jika memang ada beruang di sekitar sini ...” aku ingin secepatnya keluar dari sini, namun menjelajahi hutan di tengah kegelapan total seperti ini sama saja bunuh diri. Kami memutuskan untuk duduk bercakap-cakap hingga kami berdua tertidur.

Aku terbangun tiba-tiba dan secara refleks memeriksa handphone-ku.

Sudah jam 5 pagi dan fajar mulai menyingsing. Aku melihat ke sekelilingku dan menyadari sesuatu yang sangat menakutkan.

Kazuya tak ada di manapun juga.

Ia menghilang.

BERSAMBUNG...

Newer Posts Older Posts Home